Siapa Dia

Tampilkan postingan dengan label Film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Film. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 Februari 2022

AKHIRAT : A LOVE STORY

Hai! Been two years after last post, by the way, hehe.

Awal tahun ini gue diberikan waktu rehat sama Allah alias diberi sakit. Yep, i got Covid-19. Hari ini adalah hari ke 4 karantina. Gue karantina di rumah. Gue tidak menulari suami, anak, dan keluarga gue yang lain. Gue juga sepertinya tidak menulari rekan kerja gue karena sampai saat ini yang pernah kontak dengan gue sehat walafiat. Alhamdulillah juga gue diberikan gejala ringan : tenggorokan agak sakit, badan terasa ngilu dan pegal-pegal, dan gejala flu. For now, i'm stable and getting better. Cuma merasa agak serak sedikit alias tenggorokan kering. Mungkin karena kurang minum. Tapi i feel much better than before. Thank you for asking, guys! (siapa yang peduli, Ras?)

Selama karantina gue banyak melakukan sesuatu. Nope, gue banyak nonton film maksudnya. Tontonan gue yang pertama adalah serial Money Heist. Gue cuma nonton sampai Part 2 Episode 9 kalau tidak salah. Pokoknya sampai perampokan pertama selesai because sorry i'm not series type-viewer. Setelah itu gue nonton Penyalin Cahaya, Akhirat : A Love Story, dan saat ini yang sedang gue tonton sambil menulis post ini adalah Don't Look Up. Nah, yang akan gue review sekarang adalah Akhirat : A Love Story.


Sumber : Google

Kenapa review Akhirat : A Love Story? Sederhana, hari ini adalah Valentine's Day. Gue dan suami tidak merayakan tapi gue memang suka sama film genre romantis. Lagipula tidak ada salahnya nonton film bucin di tanggal 14 Februari, kan? So, here we go.

Akhirat : A Love Story dimainkan oleh Della Dartyan sebagai Mentari dan Adipati Dolken sebagai Timur. Film ini menceritakan tentang kisah asmara Mentari dan Timur yang keduanya memiliki perbedaan latar belakang keluarga dan agama. Singkat cerita, mereka berdua kecelakaan dan dari situ ceritanya menarik. Kisah cinta diantara dua dunia. Yep, mereka dalam keadaan kritis alias koma.


Timur dan Mentari

Di depan Bioskop, mereka telat beli tiket

Gue sangat suka dengan skenarionya. Para karakter tidak banyak bicara untuk menunjukkan karakternya, percakapan singkat dengan penuh maksud dibelakangnya yang membuat gue banyak menebak arah ceritanya kemana, konfliknya sangat dekat, kisah cinta yang manis, dan nggak banyak physical touch which is itu jarang gue liat di film genre romantis. Gue nontonnya nyaman, enak, dan senang. Film ini juga ada komedinya yang menurut gue sangat proporsional sesuai porsinya, bukan yang sok lucu, tidak maksa gue buat ketawa tapi bikin gue tersenyum. I love this movie.

Akhirat : A Love Story gue beri nilai 8,5/10. Di IMDb film ini dapat nilai 7,0/10. Gue rekomendasikan jadi film Valentine's Day kalian ya. Cocok ditonton bersama pasangan atau keluarga. Film yang bisa mengerti perasaan pasangan yang kasmaran, pasangan yang lagi ada masalah, orangtua yang punya anak single atau belum mau nikah, dan para single yang lagi cari keseriusan dalam sebuah hubungan.

Gue lanjut nonton dulu ya. Thank me later!

Sabtu, 18 Januari 2020

Twivortiare



Tadi malam gue tidur lebih awal lalu bangun sekitar jam 2 karena lapar. Mas Singgih yang ternyata baru tidur setelah ngerjain sesuatu, gue bangunin. Mau masak nasi dulu kok rasanya mager. Eh, Mas Singgih kasih ide buat beli makan di Gofood aja. Cuma fast food, nasi goreng, dan martabak aja yang masih buka jam segitu. Mas Singgih yang emang anaknya lebih sehat dari gue, nyaranin coba cari makanan yang lebih sehat. Gue cari deh ada makanan selain dua makanan itu sambil dalam hati bilang healthy food gue rasa nggak ada yang buka jam 2 pagi ya sayang, hehe. Beberapa menit scrolling dan searching, tetap gue nggak nemu makanan lain. Akhirnya, gue pilih nasi goreng ikan teri medan. Tiga puluh menit kemudian makanan gue sampai. Nasi goreng gue santap, Mas Singgih lanjut tidur.

Harusnya gue ngantuk setelah makan, ini malah sama sekali nggak. Daripada tidur, gue nonton film aja. Gue bukalah Netflix di Ipad. Gue lagi nggak mau film yang terlalu mikir, jadi gue cari film genre drama Indonesia. Terpilihlah Twivortiare. Gue pilih Twivortiare karena gue inget pernah lihat teman gue, Lia pernah baca novelnya. Sampul novelnya lucu banget seperti resep obat. Dulu nggak sempat baca novelnya, jadi sekarang mari disempatkan nonton filmnya.


Image result for twivortiare film


Twivortiare (2019) bercerita tentang kehidupan percintaan dan rumah tangga antara seorang dokter Beno (Reza Rahadian) dan seorang banker Alexandra (Raihaanun). Diceritakan diawal film mereka mereka memutuskan bercerai. Padahal awal pertemuan mereka sangat manis. Setelah dua tahun dari berselang, Alexandra berusaha move on dari Beno dengan menjalin hubungan  dengan Denny (Denny Sumargo) namun tidak bagi Beno yang masih mengharapkan menjalin hubungan kembali dengan Alexandra. Alexandra yang tidak bisa menyembunyikan perasaannya yang masih cinta dengan Beno, akhirnya melepaskan Denny dan setuju menikah kembali dengan Beno. Dari sana cerita dramanya bergulir.

Nonton film ini mengingatkan gue dengan salah satu film Netflix pertama yang gue tonton, Marriage Story (2019). Kedua pasangan di film tersebut sama-sama digambarkan menjadi pasangan ideal untuk satu sama lain dan dianggap pasangan sempurna. Bagi yang sudah nonton film tersebut, Twivortiare punya soul dan masalah yang sama dengan level kronis yang berbeda. Di Twivortiare akhirnya bahagia tapi kalau Marriage Story akhirnya menyedihkan. Anyway, gue sangat sangat sangat menikmati adegan Beno dan Alexandra berantem sepanjang film karena hal-hal yang jadi pencetus pertengkaran mereka adalah hal yang sebenarnya sederhana (tapi kalau ditanggapi negatif bisa jadi malapetaka) dan sering terjadi dan ditemui di kehidupan nyata sehari-hari.

Chemistry dari Reza Rahardian dan Raihaanun bisa gue katakan cukup baik. Sebelum gue nulis ini, gue sempat membaca sebuah artikel tentang Twivortiare yang menyebutkan chemistry Reza Rahardian dengan Adinia Wirasti di Critical Eleven masih lebih baik dibanding dengan Raihaanun. Gue nggak bisa bilang mana yang lebih baik ya karena gue belum nonton Critical Eleven (2017). Tapi gue bisa membandingkan antara chemistry Reza Rahardian - Raihaanun dengan Reza Rahardian - Acha Septriasa di film Test Pack (2012). Jujur, gue lebih suka chemistry Reza Rahardian dengan Acha Septriasa. Lebih tersentuh aja gitu.

Image result for twivortiare film
Alex dan Beno
Image result for twivortiare film scene bertengkar
Saat Alex dan Beno mau menikah untuk kedua kalinya
Image result for twivortiare film beno dan alex
Pas adegan ini sweet banget sih, hehe.
Image result for twivortiare film beno dan alex
Denny dan Alex
Buat gue yang baru membina rumah tangga, gue dapet beberapa pelajaran dari Twivortiare. Berumah tangga itu bukan hal yang mudah tapi juga bukan hal yang sulit untuk dijalanin. Bagaimana komunikasi dua arah dari pasangan itu sangat penting, waktu yang harus diluangkan buat keluarga, keterbukaan, kejujuran, menjaga komitmen untuk terus belajar dan memahami satu sama lain, dan selalu mencari jalan keluar dari segala masalah yang ada sama-sama. Cuma karena kita nggak makan bekal yang disiapin pasangan kita aja bisa jadi berantem. Jadi, saling menghargai juga jadi hal nggak kalah penting dalam menjaga hubungan. 

Oh iya, seperti diawal gue katakan gue belum pernah baca novelnya jadi gue nggak bisa komentar terkait bagaimana Twivortiare versi film mengimplementasikan Twivortiare versi novel. Jadi, bagi yang sudah nonton dan baca, bisa kasihtau gue bagaimana hasil penilaianan kalian. Score IMDb untuk film ini adalah 5,7/10. Kalau dari gue 8/10 tanpa baca novel. Eh, cuaca di Jakarta hari ini lagi mendung. Coba deh nonton Twivortiare kalau emang ada yang punya hubungan kondisinya juga lagi sama. Kali aja dapet inspirasi dari sana cara baikannya gimana. Pokoknya, jangan pernah menyerah sama pasangan masing-masang ya.

Jumat, 17 Januari 2020

Sebelum Iblis Menjemput

Halo.
Akhirnya gue buka lagi blog gue setelah sekian lama. Alasan gue buka lagi karena suami gue, Mas Singgih yang cerewet minta gue teruskan hobi menonton dan menulis. Oh iya, gue sudah menikah Juli 2019 lalu dengan beliau. Saat ini gue masuk minggu ke 24 kehamilan. Alhamdulillah, mohon doanya supaya si bayi dalam kandungan dan gue selalu diberi kesehatan dan keselamatan sampai hari kelahiran si bayi, aamiin. Well, setelah buka blog gue ternyata ada draft yang belum di post tentang film yang gue tonton bareng sama Mas Singgih saat masih pacaran tapi lupa di mall mana, hehe. Nah sekarang gue akan selesaikan apa yang belum sempat diselesaikan. Semoga mau baca ya.

---------------

Kayaknya sudah lama gue nggak ngerasa takut setelah nonton film horror di bioskop sampai nggak berani tidur sendiri. Iya, setelah nonton film Sebelum Iblis Menjemput gue takut tidur sendiri.

Image result for sebelum iblis menjemput

Memang sudah lama gue berniat menonton Sebelum Iblis menjemput di bioskop sejak gue lihat post instagram sutradara favorit gue, Timo Tjahjanto lagi syuting film ini. Setelah nonton filmnya yang berjudul Rumah Dara/Macabre (2009), film dari Timo jadi film yang gue tunggu-tunggu. Film bioskopnya yang kedua, The Killers (2014), hasil kolaborasinya dengan Daniel Mananta sebagai produser, nggak sempat gue tonton di bioskop. Agak menyesal sih. Kalau boleh mundurin waktu, lebih pilih nonton di bioskop aja daripada via streaming. That movie so "juicy"!

Sebelum Iblis Menjemput atau judul luar negerinya The Night Comes For Us, adalah film ketujuh Timo Tjahjanto. Cerita ini diawali dengan kematian tak wajar pengusaha sukses Lesmana (Ray Sahetapy). Laksmi (Karina Suwandhi), model lawas yang merupakan istri kedua Lesmana, beserta anak-anak mereka Maya (Pevita Pearce) dan Ruben (Samo Rafael) pergi ke rumah lama Lesmana untuk mencari sertifikat rumah tersebut. Mereka nggak tahu kalau anak tunggal dari pernikahan pertama Lesmana, Alfie (Chelsea Islan) juga datang kesana untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan Ayah dan Ibunya. Dari sanalah cerita bergulir. Rahasia demi rahasia terbongkar dan banyak peristiwa aneh lainnya yang menimpa mereka.

Image result for sebelum iblis menjemput
Maya diperankan Pevita Pearce
Image result for sebelum iblis menjemput
Alfie diperankan Chelsea Islan
Selain karena si hantunya yang membuat gue takut, gue dibuat ngeri juga dengan adegan pesugihannya. Gue jadi ingat saat Lesmana mau meninggal di rumah sakit, kondisinya dibuat sangat "ilmu hitam", sangat "iblis". Set lokasi dibuat berdarah-darah dan berlumpur tapi bukan yang berlebihan dan terlihat palsu. Pevita Pearce dan Chelsea Islan nggak dibuat cantik saat darah dan lumpur ada di wajah mereka. Chelsea Islan yang berperan menjadi anak tunggal terlantar yang marah dengan Bapaknya bisa gue katakan cukup baik karena dalam beberapa adegan gue masih melihat kekakuan dari Chelsea Islan. Oh iya, kalau nggak salah dari yang gue baca Karina Suwandhi nggak pakai pemeran pengganti saat adegan kerasukannya, lho.

Image result for sebelum iblis menjemput
Lesmana meminta bantuan kepada Iblis

Image result for sebelum iblis menjemput
Laksmi saat kerasukan
At the end, jujur, ekspektasi gue sesuai dengan filmnya. Sudah tiga film Timo yang gue tonton dan ketiganya nggak ada yang mengecewakan. Salah satu film horor berkualitas dengan dibuktikannya berbagai macam nominasi dan penghargaan dari dalam dan luar negeri. Score IMDb 5,9/10 dan 83% dari Rotten Tomattoes. Bulan februari 2020 film Sebelum Iblis Menjemput Ayat 2 akan tayang di bioskop. Sayangnya, bisa dipastikan gue nggak akan nonton film ini di bioskop karena masuk usia kandungan diatas 24 minggu, nggak baik memperdengarkan suara yang terlalu keras buat si bayi didalam perut. Tapi buat kalian, silahkan siap-siap cari teman nonton ya.

Sabtu, 11 Agustus 2018

Primal Fear

Sudah lima hari gue nggak masuk kerja dikarenakan gue sakit. Sakit apa? Ada deh, hehe. Selama lima hari pula gue harus istirahat di rumah. Istirahat cuma jadi judul karena meski istirahat pun gue nggak bisa lepas dari handphone karena harus tetap kontrol aktivitas di kantor dan ngerjain kerjaan yang bisa dikerjain dari rumah. Pikiranpun jadinya nggak tenang. Nah, karena nggak tenang ini so i need a short escape. Short escape apa yang bisa gue lakukan saat waktu hanya boleh gue habiskan di rumah saja? Yes, definitely. Apalagi kalau bukan menonton film.

Eh iya, cara menonton film gue sekarang nggak seperti biasanya nih. Bagi yang pernah baca tulisan gue pasti tahu bagaimana cara gue memilih film untuk ditonton. Bagi yang belum, gue kasih tahu. Gue memilih film berdasarkan instinct and didn't watch any trailer and synopsis of them. Masalahnya, jujur aja, semenjak balik ke Jakarta dan sekolah lagi, nonton film dan menulis udah pindah ke urutan paling bawah untuk mengisi waktu senggang. Jadi gue butuh semacam "ilmu" baru untuk menonton film, terpaksa dengan baca sinopsisnya.

Film yang baru gue tonton kemarin malam adalah hasil referensi gue di @moronmovie, sebuah akun Instagram yang isinya reviewing movies. Primal Fear adalah salah satu dari deretan film yang punya plot twist terbaik versi mereka. Sebelumnya gue sudah nonton The Vanishing (1988), juaranya. Kenapa gue tertarik nonton Primal Fear karena yang main Richard Gere. Gue jarang banget nonton filmnya. Yah, selain film-film lain adalah film foreign language, hehe.

Image result for primal fear movies

Primal Fear adalah film jaman dulu, tahun 1996 yang diangkat dari novel karangan William Diehl yang menceritakan seorang pengacara kondang bernama Martin Vail (Richard Gere), mantan jaksa yang membela tersangka kasus pembunuhan seorang uskup di kotanya bernama Rushman. Tersangkanya bernama Aaron Stampler yang diperankan oleh Edward Norton (Birdman, 2014). Marty, panggilan orang-orang disekitarnya untuk Martin Vail, sangat yakin bahwa Stampler tidak bersalah. Sampai-sampai dia tidak menarik biaya apapun dari Stampler untuk jasanya.

Aaron Stampler adalah seorang anak altar gagap yang diambil dari jalanan oleh si Uskup Rushman. Tampilannya sangat polos. Namun saat dia ditangkap dan dijadikan tersangka, Stampler sama sekali  nggak polos. Badan dan bajunya bersimbah darah si Uskup. Jejaknya ada di TKP dan sidik jarinya pun ada di barang bukti. Meski begitu, Marty tetap yakin bahwa dia nggak bersalah. Ditambah lagi dengan cerita Stampler ke Marty bagaimana dia bisa ada di kamar Uskup Rushman saat kejadian. Seakan tertutup matanya, Marty mempercayai firasatnya tanpa peduli omongan dari timnya. Dari sana, cerita bergulir.

Related image
Aaron Stampler saat tertangkap

Image result for primal fear movies
Pertama kali Martin Vail bertemu dengan Aaron Stampler

Image result for primal fear movies
On court

Film ini di sutradarai oleh Gregory Hoblit. Nggak ada film atau serial yang pernah dia direct pernah gue tonton sih. Tapi diliat dari judulnya, film dan serialnya berbau kriminal semua. So, i can tell you that dia spesialis film-film penuh teka-teki macam begini. Then what do you feel nonton Edward Norton masih muda? Tua aja ganteng, gimana masih muda, hehe. Aktingnya tidak perlu diragukan lagi. Cocok dengan karakter Aaron Stampler. Apalagi saat twist-nya terjadi. He nailed it. Salut untuk tim audisi film ini. Dari alur cerita, gue tidak menemukan masalah. Film ini sebenarnya menampilkan banyak masalah yang dimampatkan menjadi satu frame yang menarik, dari pemeran utama maupun pembantu semuanya terhubung. Skandal yang tidak terduga dan menjadi motif pembunuhan juga cukup membuat terkejut. Primal Fear memperhatikan detail. Jadi jangan disambi sambil melakukan aktivitas lain karena bukan hanya juri persidangan dalam film ini yang harus teliti tapi kita juga. By the way, gue agak ngilu saat tangan si Uskup dipotong. Aw!

Image result for primal fear movies
Edward Norton sebagai Aaron Stampler
Image result for primal fear movies
Richard Gere sebagai Martin Vail

Perasaan seperti "kapan selesainya sih?" atau "ini ending-nya gimana sih?" udah pasti muncul saat lo nonton ini. Kita dibuat penasaran sampai akhir, benar-benar akhir. Mungkin akan ada beberapa orang yang saat nonton ini sudah menyiapkan ekspektasi yang rendah alias mudah ketebak ceritanya. Tapi bagaimana ketebaknya itu yang bikin gemas. Gemas in a good way, hehe.

Buat lo yang suka film dengan plot sejenis Gone Girl, wajib nonton ini. Belum nonton Gone Girl? Silahkan baca review gue dulu sebelum nonton disini. Score di IMDb 7,7/10 dan di Rotten Tomatoes 74% penonton suka sama film ini. Happy saturday night, pal!

Minggu, 05 Agustus 2018

All The Money In The World

Oh, ternyata ada post yang masih masuk draft ya. Maaf nih, kayaknya udah berapa bulan dianggurin post yang satu ini hehe. Well, i let you read this one. Ingat ya, ini post udah berapa bulan lalu. Tidak gue edit lagi supaya rasanya masih sama saat gue tulis. So, enjoy!------------

Whoop! Langsung gue bangun dari tempat tidur dan segera mengambil laptop yang ada diatas lemari. Tiba-tiba aja gue nggak mau tidur dulu dan mau menulis dan berbagi sesuatu.
Yang akan gue tulis ini adalah review film yang gue tonton hari minggu kemarin. Sebelum gue review, gue ingin sedikit cerita hari itu. Hari minggu kemarin, si Pacar mengajak pergi di tengah kegiatannya yang padat. Dari ngurus mobil sampai ketemu temennya. Gue dapet jadwal siang. Beliau mengajak pergi tidak lain untuk menemaninya "me time". You know, "me time" dia itu ngelaptop. Jadi daripada bengong nggak ada bahan bacaan juga, gue nonton film aja. As usual, without read any synopsis and watch any trailer, i picked by instinct. Pilihan gue jatuh ke All The Money In The World (2017).

Poster film All The Money In The World

Jujur aja, gue pilih film ini karena yang main Mark Wahlberg. Beberapa kali gue nonton film dia, nggak ada yang jelek menurut gue dan menarik semua film-filmnya. Dari Ted sampai The Fighter. All genre, he did very well.

All The Money In The World adalah film yang diadaptasi dari sebuah buku yang berjudul Painfully Rich: The Outrageous Fortunes and Misfortunes of The Heirs of J. Paul Getty. Buku yang ditulis oleh John Pearson ini menceritakan tentang kisah nyata penculikan cucu dari salah seorang terkaya di dunia, John Paul Getty, seorang pengusaha minyak yaitu John Paul Getty III pada tahun 1973. Hal yang menarik dan menjadikan penculikan tersebut highlight adalah si penculik mengirimkan potongan kuping sebagai ancaman bila uang tebusan tidak dibayarkan. Tidak hanya itu, uang tebusan yang berhasil di diskon alias di negosiasi sampai kira-kira 76% dari penawaran si penculik (dari 17 juta USD sampai 3-4 juta USD, sorry gue lupa hehe), serta Mr. Getty menolak bayar uang tebusan untuk cucunya sendiri.

Ada empat karakter yang berkonflik disini. John Paul Getty, cucunya, orang kepercayaannya, dan menantunya. John Paul Getty sendiri diperankan oleh aktor senior Christopher Plummer (The Sound of Music) yang dari peran ini katanya masuk di nominasi Best Supporting Actor. Cucunya yang di culik, Paul Getty III diperankan oleh Charlie Plummer. By the way filmnya sih nggak ada yang gue tahu ya. Lalu ada Mark Wahlberg (Ted) sebagai Fletcher Chase, orang kepercayaan si Getty. Terakhir, Michelle Williams (Blue Valentine) sebagai  Gail Harris, Ibu dari Paul Getty III.

Christopher Plummer sebagai John Paul Getty. Plus anjing disampingnya

Mark Wahlberg sebagai Fletcher Chase. Mirip Clark Kent ya?
Dari ceritanya gue belum baca bukunya sih. Alur maju mundurnya nyaman diikuti. Scene kurang banyak tentang Chase menunjukkan lihainya bernegosiasi dengan partner kerja Getty. Jadi saat diminta Getty untuk mengurus penculikan Paul, gue melihatnya tidak yakin. Lalu apakah Getty meninggal dengan begitu? Sendirian sambil memandangi lukisan ibu dengan bayinya yang lucu? Lalu apakah betul Getty setega itu mengarang cerita kepada cucu dan anaknya mengenai patung setengah manusia itu? Kalau ya, gue ikut sedih dan kecewa tentunya. Sebegitunya kakek gue.

Michelle Williams sebagai Gail Harris
Charlie Plummer sebagai Paul Getty III saat diculik
Ini film bagus. I gave applause when after credits showed up. Alasannya dengan mudah gue katakan, film dan cerita nyata Mr. Getty sekeluarga menunjukkan bahwa uang tidak bisa membeli segalanya. Malah kadang uang jadi bumerang kita sendiri. Score IMDb 7/10 dan di Rotten Tomatoes 6,9/10. Kalau dari gue sendiri 7,5/10. So, happy watching guys!

Minggu, 12 April 2015

Estomago: A Gastronomic Story


Bulan April mungkin menjadi salah satu bulan yang ditunggu-tunggu kedatangannya sejak awal tahun karena di bulan ini beberapa film keren dari luar dan dalam negeri tayang. Sampai saat ini sih film keren yang udah tayang diantaranya adalah Fast And Furious 7, Guru Bangsa Tjokroaminoto, dan Filosofi Kopi. Tapi sayang seribu sayang. Saya nggak bisa nonton semua film tersebut karena bulan ini bulan penting buat studi saya jadi puasa nonton dulu dan mengurangi ngopi sana sini. Ya gitu deh. Bantu doa ya makanya biar cepet selesai dan bisa bebas ke bioskop dan ngopi sana sini lagi. Hehe.

Saya tetaplah saya yang nggak bisa begitu saja saya lepas dari film. Saat ada waktu luang seperti sekarang ini, saya meluangkan waktu saya buat nonton film. Syukurlah, beberapa minggu kemarin saya sudah menyimpan beberapa film baru di laptop saya. Jaga-jaga kalau saya sedang suntuk dan kangen ingin nonton, saya tinggal membuka laptop saya saja. Anyway, film pertama yang akan saya tulis di bulan ini adalah Estomago: A Gastronomic Story.




Awalnya saya sempat nggak tertarik menonton film Estomago. Film foreign language tentang kuliner. Ah, terdengar membosankan dan aneh bagi saya, Namun, saya pilih film ini untuk ditonton apalagi saya tulis karena film ini masuk kedalam 11 film favorit tentang makanan yang ditulis oleh Kak Nuran di website Mojok.co. Yang saya tahu, beliau mengerti soal makanan. Jadi, kenapa nggak saya coba tonton. It would be interesting and trustworthy.

Lima menit pertama saya nggak tertarik dengan film ini. Saya membatin, kalau dalam 5 menit lagi film ini tetap nggak menarik, saya akan ganti menonton film lain. Saya bersyukur menunggu karena ceritanya seketika menjadi menarik bagi saya.

Estomago adalah film Brazil/Italia tahun 2007. Bercerita tentang seorang pria bernama Nonato yang bertahan hidup di penjara dengan mengandalkan kemampuannya memasak. Berawal dari kedatangannya ke sebuah kota, dimana dia tidak tahu arah dan tujuannya kemana. Untuk bertahan hidup, dia bekerja di sebuah tempat makan kecil yang kemudian membuatnya mengetahui bahwa didalam dirinya terdapat skill memasak yang mumpuni. Dari situ cerita bergulir. Nonato pindah bekerja ke sebuah restoran besar, bertemu pujaan hati, dan terlibat peristiwa dimana akhirnya dia mendekam di penjara.

Pertama kali bertemu dengan Iria

with his new boss in new place

Jail's friends

Film ini beralur bolak balik. Terkaan saya, pembuka filmnya adalah awal. Eh, ternyata saya salah. Meskipun beralur bolak balik tapi film ini sama sekali tidak membingungkan. Kita akan dengan sangat mudah dibuat mengerti. Genre Estomago adalah drama. Didalamnya ada kisah pilu Nonato bertahan hidup dan kisah cintanya yang berakhir tragis dengan Iria, seorang pekerja seks komersial yang jatuh cinta dengan semua makanan lezat buatan Nonato. Bagi yang nggak sabar mungkin akan nggak tahan dan akan beralih menonton film lain. Tapi jangan dulu, film ini klimaksnya mendekati akhir. Konflik dalam Estomago tidak berlebihan dan terasa cukup bagi saya. 

Nonato pertama kali datang ke kota

Nonato as a chef assistant

Nonato as a chef..... in jail
Yang saya suka dari film ini adalah makanan yang dibuat pada film ini serba Itali. Saya suka sekali dengan pasta dan segalanya tentang Itali. Semua makanan di film ini terlihat enak dan membuat saya lapar saat menontonnya. Yah, meskipun selama hampir 2 jam nggak melulu ada makanannya sih. Selain itu keromantisan yang ada pada diri Nonato saat meminta Mr. Zulmiro, majikan di tempat makannya dulu menjadi Best Man bila dia menikah dengan Iria nanti. How sweet.

Estomago tidak hanya berbicara tentang makanan secara harfiah tapi berbicara tentang gambaran perilaku manusia sebagai "pemakan" dan sebagai yang "dimakan". Skor di IMDb 7,7/10 tapi buat saya ini 8/10. Well, have a good dinner, pals. Jangan lupa ditonton ya!

Sabtu, 21 Maret 2015

Insurgent

Halo! Selamat malam minggu! Really feel good to be back! Kangen banget rasanya sudah dua bulan absen dan bulan ini adalah bulan pertama di tahun 2015 dimana saya kembali pergi ke bioskop untuk menonton dan kembali sign in blogger untuk menulisnya.

Sedikit cerita untuk membuka tulisan saya. Minggu ini saya kedatangan teman yang statusnya merantau juga tapi beda kota, Adit. Dia baru datang dari Lombok hari selasa kemarin. Singkat cerita dia mengajak saya pergi ke bioskop jumat kemarin ini. Sepakat, kami pilih Insurgent dibanding Cinderella untuk ditonton.

Insurgent, film pembuka dari Must-watch Movies List saya tahun ini. Insurgent adalah film lanjutan dari Divergent. Bagi yang belum tahu, film ini diangkat dari novel karangan Veronica Roth. Novelnya berseri sampai seri keempat. Jadi, masih ada dua film lagi kira-kira yang akan tayang. Just wait and see.

Official Poster

Insurgent bercerita tentang Tris Prior (Shailene Woodley), seorang Divergent yang melarikan diri dan mencoba menyerang balik pasukan yang dipimpin oleh Jeanine Matthews (Kate Winslet) yang telah menyerang habis-habisan faksi orangtuanya, Abnegation. Tris tidak sendiri. Dia ditemani oleh kekasihnya Four (Theo James). Mereka menjadi buronan dan karena sesuatu hal yang menyangkut kelanjutan masa depan, Tris menjadi Divergent paling dicari oleh Jeanine.

Dari segi cerita bagi orang yang nggak pernah baca novelnya seperti saya, sangat bagus dan seru ceritanya. Rumit tapi mudah dicerna. Insurgent penuh dengan drama dan action yang cukup. Lebih drama dibanding film pertamanya. Pengkhianatan dan beberapa twist menjelang akhir film membuat keseruan dan ketegangan film ini terjaga sampai lampu bioskop menyala. Saya pribadi cukup puas dan reflek bertepuk tangan agak pelan setelah film selesai. Hanya saja ada satu yang membuat saya penasaran. Konflik apa yang akan diangkat pada film ketiga? Yang saya tangkap, nggak ada sama sekali clue untuk film ketiga. Atau saya yang kurang peka yah? Hehe.

Faksi Candor

Guns and Punches ada semua di Insurgent



Akting Shailene Woodley cukup meyakinkan dalam menunjukkan kerapuhan sekaligus kekuatannya dalam satu waktu menurut saya. Kate Winslet juga so fierce. Kalau buat cewek-cewek lain, mungkin Four dan Caleb yang digilai pada film ini tapi saya berbeda. Miles Teller sebagai Peter Hayes, blows my mind. He becomes my favorite jackass from now. Ngeselinnya natural, good looking lagi. He is one of beautiful and lovable jerks who you want to date with.


Sucks but lovely

Miles Teller always surprise me

Dibanding dengan Mockingjay Part 1, Insurgent lebih unggul. Mungkin dikarenakan Insurgent tidak kehilangan banyak action dibanding Mockingjay Part 1. Namun Mockingjay Part 1 tidak bisa disalahkan juga karena kata temen yang udah baca novelnya, cerita di seri Mockingjay memang sangat drama dan actionless. Btw, Robert Schwentke itu adalah sutradara yang menggarap film Red dan The Time Traveller's Wife yah. 

Then, the conclution is this movie is really worth to watch for your weekend or your exhausted weekdays. Bakal gereget sendiri deh pas nonton karena beberapa kali dibuat surprise. Yah, at least saya kayak gitu kemarin, hehe. Skor dari saya 7,8/10, dari IMDb 7,0/10, dan dari Rotten Tomatoes 3,8/5. Well, tunggu apa lagi buat pergi ke bioskop?


Senin, 16 Februari 2015

Theory Of Everything

Akhirnya ada alasan buat posting blog lagi setelah beberapa minggu absen. Kangen rasanya buat nulis yang artinya kangen nonton ke bioskop lagi. Jujur, setelah saya liat jadwal tayang film-film hollywood sepanjang tahun 2015, nggak ada film menarik dari bulan Januari sampai Maret yang bisa buat saya tergerak pergi ke bioskop. Jadilah saya nonton film online atau film minta dari temen. Dalam seminggu saya bisa nonton tiga sampai empat film. Ada sih beberapa film yang saya suka dan bisa ditulis di blog cuma belum cukup menggenapkan semangat saya tapi film yang satu ini beda. Setelah saya selesai nonton, saya sangat bersemangat dan berniat langsung menulis review-nya. Ya, niat hanyalah niat. Saya baru nulis sehari setelahnya dan dilanjutkan tiga hari setelahnya.

Film ini sebenarnya tidak termasuk film baru karena sudah tayang beberapa bulan lalu alias film tahun 2014. Alasan saya baru menonton film ini adalah Theory of Everything masuk kedalam beberapa kategori di Golden Globe dan saat aktor utamanya mendapatkan Golden Globe atas perannya di film ini, saya menjadi tertarik dan ingin tahu seperti apa filmnya. Well, ternyata film ini memang layak masuk Golden Globe.



Theory of Everything. Seperti biasa, karena kebiasaan saya yang jarang lihat trailer, saya pikir film ini adalah film drama romantis biasa yang mendayu-dayu dan merayu air mata seperti The Fault In Our Star. Ternyata benar tebakan saya, film ini film drama romantis tapi yang salah adalah film ini nggak biasa. Theory of Everything adalah film biografi dari ilmuwan ternama Stephen Hawking yang diperankan oleh Eddie Redmayne, aktor muda yang naik daun setelah bermain di film musikal epic Les Misserable.

Theory of Everything menceritakan seorang ilmuwan muda dari Inggris bernama Stephen Hawking yang mengidap penyakit gangguan saraf motorik. Penyakit tersebut membuat hidupnya diprediksi tinggal dua tahun saja dan membuatnya tidak bisa lagi berjalan, menulis, sampai berbicara (komplikasi penyakit pneumonia) namun penyakit tersebut tidak menghalanginya untuk tetap berkarya. Film ini juga menceritakan cerita cinta Hawking bersama istrinya Jane, yang diperankan oleh Felicity Jones yang ternyata sangat sangat menarik dan mengharukan.

Seperti kebanyakan biografi tokoh besar, sepertinya tidak ada yang dibuat dengan main-main. Hal ini terbukti dari pendalaman karakter yang dilakukan sang aktor utama. Tidak hanya sosoknya saja yang diduplikasi dengan baik tapi bagaimana akting lumpuhnya begitu nyata. Buat saya itu terlihat tidak dipaksa, sangat mengalir dan membuat kita percaya bahwa segala bentuk yang dibuat dari ujung rambut sampai kaki benar-benar terjadi pada Redmayne. Pemain pendukung lain juga memerankan perannya dengan baik menurut saya.  


Mirip!

Theory of Everything ber-genre drama romantis dan tak seru bila tak bicara soal romantisme di film ini. Satu kata untuk film ini, Manis. Kesetiaan, pengorbanan, dan cinta tulus Jane untuk Hawking disaat senang dan susah benar-benar sangat indah untuk dilihat dan dirasakan. Saat sampai diakhir film, dalam hati saya bertanya-tanya apakah saya sanggup saat nanti menjadi seorang istri punya kesetiaan seperti Jane karena pasti sangat sulit menjadi seorang istri yang mana di waktu bersamaan harus mengurus keluarga namun tetap berusaha mengejar cita-cita dan mimpinya. Well, this movie talks more, girls.

how sweet

perfect dad

Ada beberapa kelemahan buat saya di film ini. Stephen Hawking masih terlihat begitu muda dan tak ada bedanya dari awal film sampai akhir film. Padahal ceritanya sudah belasan tahun tapi terasa tak ada perubahan selain kondisi tubuhnya yang semakin parah. Selain itu, Felicity Jones masih terlihat begitu muda saat berperan sebagai istri beranak tiga. Tapi hal baiknya adalah mereka memang mirip, sih Felicity Jones dengan Jane Hawking muda. Oh ya, dokter yang menjelaskan tentang penyakit yang diidap Hawking pertama kali kurang greget. Terlihat awkward dan seadanya. Tapi itu hanya bagian kecil dari film ini yang tidak akan merusak rasa legit dari ceritanya.

Rating film ini dibeberapa situs film juga bagus yaitu diatas 7. Bagi yang belum menonton dan bingung film apa yang cocok ditonton berdua dengan kekasih untuk mengisi waktu luang liburan ini, saya pikir Theory of Everything bisa jadi solusinya. Eh, jangan sedih bagi yang single karena film ini juga cocok kok ditonton rame-rame bareng temen-temen cewek kamu. Buat saya sih Eddie Redmayne is one of sexy geeks after Jesse Eisenberg dan benedict Cumberbatch tentunya. So, happy watching guys!

Rabu, 14 Januari 2015

Gone Girl

Gue nggak nyangka, kaget, dan deg-degan sepanjang film ini main. Beberapa menit setelah film ini selesai pun gue masih ngerasain deg-degan yang sama. Saat ini gue masih ngatur kata-kata seperti apa yang akan gue tulis. 



Gone Girl, film bergenre suspense dan misteri ini release tahun 2014 kemarin tepatnya bulan Oktober di Amerika. Film ini bercerita tentang hilangnya seorang istri (Rosamund Pike) tepat di hari ulang tahun pernikahannya. Segala macam bukti yang ada di TKP mengatakan sang istri dibunuh oleh sang suami (Ben Affleck). Dari situlah cerita dimulai bagaimana si suami membuktikan kepada polisi dan publik bahwa dirinya tidak bersalah.

Film Gone Girl berdurasi cukup panjang yaitu 2 jam 29 menit. Tapi gue nggak merasa bosan saat menonton. Gue dibuat menebak-nebak jalan ceritanya selama film ini main namun berkali-kali tebakan gue salah. Gue termasuk penggemar film misteri dan teka-teki jadi gue sangat menikmati kesalahan-kesalahan tersebut. Hehe.




The Social Network, The Girl with The Dragon Tattoo, Zodiac, The Curious Case of Benjamin Button, dan Panic Room adalah beberapa film yang disutradarai oleh sutradara film Gone Girl. Yes, David Fincher. He's such a brilliant director for me. House of Cards, serial TV garapannya masuk ke beberapa nominasi di Golden Globe 2015 kemarin. The Social Network adalah film yang membuat gue jatuh cinta dengan akting Jesse Eisenberg dan The Curious Case of Benjamin Button adalah film panjang pertama (lebih dari 2 jam) yang gue tonton. Kalau diingat-ingat kembali, film-film garapannya termasuk film yang sulit ditebak buat gue. Semua film yang gue sebutkan diatas masuk kedalam daftar film-film bintang lima buat gue dan Gone Girl sudah pasti masuk dalam daftar tersebut. 

Film ini menarik dari segi cerita. Alur cerita yang sulit ditebak, kisah misteri yang penuh teka-teki, disiplin dan perencanaan matang akan kamuflase, dan karakter para aktor utama. Akting Rosamund Pike sooooo fits into the character. Suara dan tatapan matanya benar-benar menunjukkan who the real Amy is. Tentu Ben Affleck tidak ketinggalan mendapat pujian. Setelah beberapa waktu gue nonton filmnya yang berjudul Argo, gue rubah persepsi gue tentang dia. He's a great actor. Nggak sabar nunggu aktingnya di film Superman vs. Batman.

Anyway, gue nggak bisa cerita detail bagaimana menariknya film ini karena harus nonton sendiri filmnya. It's a must. Filmnya termasuk film mikir tapi bagi yang gemar dengan film tipe "Sherlock Holmes" seperti ini gue yakin film Gone Girl masuk ke waiting list of your favorite movie all of time. Tenang, skornya bagus kok di beberapa situs film. Recommended!


Sekian dulu dari gue. Seneng bisa nulis buru-buru karena harus lanjutin nulis skripsi. Well, have a good day, pals! 

Sabtu, 10 Januari 2015

Her

Saya ingat, pada tahun 2013 muncul satu film yang sempat jadi bahan perbincangan di dunia maya dan para pecinta film karena banyak masuk nominasi dan menang di berbagai award. Sebuah film Sci-fi yang tak biasa. Tak ada adegan perkelahian di luar angkasa, jejeran laptop canggih, atau tangan robot disana-sini. Sebuah film drama cinta sederhana sesederhana judulnya namun sangat dalam.

Saya sudah sejak lama ingin menonton film ini. Film yang judulnya terdiri dari tiga huruf dan posternya yang memajang wajah close up si pemain utama, Joaquin Phoenix yang memiliki mata berwarna hijau pucat. Dua hal tersebut yang membuat saya penasaran sejak lama. Akhirnya, siang tadi saya tonton film ini lewat laptop saya. Hooray!




Saya terbiasa dengan tidak membaca review atau sinopsis sebuah film saat saya sedang memilih mau menonton film apa. Trailer pun hanya beberapa film saja yang saya lihat, seringnya tidak pernah. Jadi film yang saya tonton atau pilih rata-rata hanya karena tebak-tebak penasaran, mendengar apa kata teman-teman, atau yang sedang ramai diperbincangkan di sosial media dan dibahas di banyak portal berita. Seperti film Her, saya nggak tahu banyak tentang film ini sebelum saya tonton. Saya cuma tahu film ini mirip dengan film Ruby Sparks (2012), film yang menceritakan pria yang jatuh cinta dengan tokoh khayalannya.




Film Her disutradarai dan ditulis oleh Spike Jonze yang banyak membuat film pendek dan dokumenter. Film ini berkisah tentang seorang pria bernama Theodore yang sedang patah hati karena perceraiannya dengan istrinya, Catherine (Rooney Mara). Ditengah perasaannya yang sedang gundah, muncullah Samantha (Scharlett Johanson), sebuah operating system yang disebut OS 1. Samantha adalah teknologi mutakhir yang memiliki kesadaran, mampu berkembang, dan berinteraksi dengan penggunanya. Samantha membuat Theodore nyaman ditengah kesendiriannya yang kemudian membuat Theodore jatuh cinta dengan Samantha. Dari situlah cerita mulai bergulir.



Film ini sangat menyentuh. Kata-kata manis Theodore saat menulis surat, ketulusannya pada Samantha, bagaimana patah hatinya Theodore bercerai dengan Cathrine, semuanya sangat lembut. Sinematografi yang oke dan settingnya yang bernuansa orange membuat mata saya nggak ngotot nonton selama 126 menit dan tentu menambah manisnya film ini. Film romantis menyedihkan yang dibalut kecanggihan teknologi modern. Kenapa saya bilang menyedihkan karena film ini mengingatkan saya dengan cinta jarak jauh yang cuma bisa mendengarkan suara orang yang kita sayang lewat telfon atau lainnya. Menyedihkan tapi romantis. Saya nggak heran kenapa film ini mendapat review yang baik dari para kritikus.

Skor film Her dibeberapa situs film diatas angka 8 semua. This movie is really worth to watch. Apalagi buat orang-orang yang sedang menikmati malam minggunya di rumah, cocok banget nonton ini.

So, happy saturday night, you guys!

Minggu, 28 Desember 2014

The Interview

Beberapa hari belakangan ini, hampir semua akun film di Twitter yang saya follow ngetwit berita tentang sebuah film kontroversi dari Amrik. Kontroversinya nggak main-main karena bersinggungan langsung dengan salah satu negara konflik, Korea Utara. Yak, film tersebut adalah The Interview.

Official Poster

The Interview adalah film bergenre komedi satir yang dibintangi oleh James Franco dan Seth Rogen. Film ini bercerita tentang perjalanan seorang presenter acara, Dave Skylark (James Franco) dan produsernya Aaron Rapaport (Seth Rogen) mewawancarai Kim Jong Un, Supreme Leader alias Presiden Korea Utara dan inilah penyebab film ini menjadi kontroversi. Bagi yang mau tahu trailer dan sinopsisnya silahkan cari sendiri ya.

Dari yang saya baca di situs IMDb, The Interview sudah premiere dari awal bulan Desember namun karena banyaknya permasalahan yang ada yaitu banyaknya protes dari berbagai pihak sampai dibajaknya film ini, penayangannya diundur sampai natal kemarin. Saya males ngebahas soal kasusnya karena sudah banyak sekali ada di portal berita manapun jadi bagi yang ingin tahu lebih lengkap mengenai hal tersebut bisa langsung googling.

kerjasama dengan CIA untuk misi membunuh Kim Jong Un

Solid

Skylark Tonight Talkshow

Buat saya film ini lucu. Memang nggak membuat saya terpingkal tapi cukup membuat saya tertawa dan tersenyum terutama saat melihat kekonyolan tingkah James Franco yang agak pinpinbo (pintar pintar bodoh) di film ini. The Interview juga tidak ketinggalan memasukan komedi nakal didalamnya.

Pemeran Kim Jong Un, Randall Park sangat mirip dengan sosok Kim Jong Un di dunia nyata. Katanya sih dia melakukan penggemukan selama seminggu agar terlihat gemuk seperi Kim Jong Un. Saya memang nggak mencari tahu lebih jauh sih tentang pribadi Kim Jong Un, hanya saja dalam film ini sindiran akan kehidupan pribadi beliau cukup keras juga, beliau dibuat menjadi sosok yang rentan, manis, dan arogan dalam satu waktu namun tidak untuk kondisi politiknya yang dalam film ini tidak terlalu dibahas atau disindir terlalu dalam.


Randall Park as Kim Jong Un

Kim Jong Un makan bareng idolanya, Dave Skylark. Ceritanya.

Terdapat beberapa pesan yang coba disampaikan oleh The Interview salah satunya yang saya suka adalah jangan mau diremehkan oleh orang lain. Buat hal tersebut jadi acuan kita melakukan yang lebih baik. Buktikan kalau kita bisa memaksimalkan batas kemampuan kita. Okay, saya ngerasa jadi orang paling asyik malam ini saat nulis tiga kalimat diatas, hahaha.

Film besutan Seth Rogen dan Evan Goldberg yang duduk di kursi sutradara ini bisa dijadikan alternatif tontonan saat hujan ngebuat kita nggak bisa keluar dari rumah. Score di situs IMDb pun cukup bagus yaitu 7,9/10. Film ini sudah banyak di situs download film jadi silahkan diunduh karena memang di Amrik sendiri, oleh Sony film ini sudah disebar lewat internet juga. So, happy watching and happy holiday!