Siapa Dia

Tampilkan postingan dengan label Isi Pikiran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Isi Pikiran. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 Januari 2016

Pelajaran Dari Kopi, My 'Lil Buddy

Gue suka banget minum kopi. Kebiasaan ngopi bermula dari pindahnya gue ke luar kota untuk kuliah. Disana menjamur banget yang namanya coffee shop. Meski gak branded tapi kopi disana enak. Bukan kopinya saja yang enak tapi suasana dan konco ngombe-nya yang bikin enak. Minum kopi juga menjadi kebiasaan saat tugas kuliah menumpuk dan ujian semesteran tiba. Rasanya minum air putih saja kurang, butuh kafein supaya mata bisa bertahan.

Saat sudah kembali ke rumah, minum kopi bukan untuk itu lagi tapi untuk sapaan hangat di pagi hari dari Mama. We both love coffee. Tapi akhir-akhir ini gue mulai sadar kalau kebiasaan minum kopi gue mulai bikin nggak sehat. Perut gue sempet bermasalah beberapa waktu lalu dan sering pusing karena beberapa hari nggak minum kopi dan Mama pun begitu. It means kami harus minum kopi terus biar nggak pusing. Ternyata nggak ngaruh juga, Mama dan gue tetep pusing meskipun udah minum kopi.

Ini masalah sekaligus pelajaran buat gue. Meskipun lo suka banget sama seseorang/sesuatu tapi dia/hal itu lama kelamaan ngasih efek buruk atau lo sebenernya udah tahu kalau hal itu nggak baik tapi lo masih ngelakuin, lebih baik jangan di paksa. Lo harus sadar dan berpikir solusi yang baik gimana. Lo mau berhenti atau mau tetep jalan tapi dengan memperbaiki sesuatu di dalamnya agar efek buruknya berkurang atau malah sama sekali nggak ada.

Mama sih pilih yang pertama, beliau berharap sekali bisa berhenti dan gue lihat niatnya kok belakangan ini. Gue sih pilih yang kedua. Gue bakal terus ngopi tapi dengan frekuensi yang nggak sesering sebelumnya. Coffee is my 'lil buddy. Nggak mungkin gue tinggal. Hahaha.
Yah.. Namanya juga hidup. Selalu ada resiko tapi kita tetep harus tahu cara buat nikmatinnya. Ya, kan?

Kamis, 15 Oktober 2015

Dia

Dia tidak tahu persis sebenarnya dia sedang kenapa. Intinya seperti ini, dia ingin bergerak lebih pelan dibanding sebelumnya. Dia ingin mundur dua langkah kebelakang untuk (mungkin) mempersiapkan sepuluh langkah kedepan nanti. Satu hal yang dia tahu benar adanya dan sudah dia alami beberapa waktu terakhir adalah, saat kita ingin mendapatkan sesuatu secepat mungkin dan memburu seburu-burunya, hasilnya tidak akan sesuai harapan.

Dia pernah berharap, namun gagal-terhambat berkali-kali

Dia percaya sekali semua yang saya sebutkan diatas pernah kita alami. Pasti, kita pernah dikecewakan oleh keadaan dan oleh keinginan kita sendiri. Dia juga sangat percaya bahwa banyak dari kita yang kelelahan di tengah jalan untuk menggapainya dan memutuskan untuk berhenti lalu kembali pulang. Namun, tak sedikit yang kelelahan di tengah jalan tetapi tetap bertahan untuk berjalan lebih pelan. Bukan karena semangat yang menurun tapi untuk menyimpan tenaga karena kita tidak tahu sampai kapan perjalanan ini akan kita lalui. Atau, menyimpan tenaga karena kita tidak tahu di persimpangan mana kita akan bertemu dengan tujuan kita. Iya, tenaga untuk terkejut, tersenyum, dan bergembira saat dipertemukan.

Sebenarnya, dia hanya ingin berjalan pelan dan menyisir jalanan. Mensyukuri apa yang terlewati dan menikmati apa yang dilewati. Hanya satu yang akan menghentikan perjalanannya kelak. "Dia menemukan aku, tujuannya", katanya.



Kamis, 03 September 2015

Tulisan Kangen

Akhirnya. Akhirnya gue sempat juga menyambangi Lima Indera. Sudah hampir 5 bulan, gue nggak menulis. Kangen! Well, sepanjang itulah banyak hal yang terjadi.

Salah satunya adalah ini. Dalam beberapa hari lagi, gue akan menghadiri wisuda gue sendiri. Iya, Alhamdulillah bulan april kemarin gue telah dinyatakan lulus dengan pelaksanaan sidang skripsi yang lancar. Lulusnya gue dari kampus Tegalboto, menandakan waktunya gue hijrah kembali ke kampung halaman. Sedih juga meninggalkan Jember. Meninggalkan sahabat-sahabat yang baiknya nggak habis-habis kayak enaknya snack Pilus Garuda (yang ingat iklannya jaman dulu pasti ngerti, hehe).

Meskipun kembali ke rumah sendiri, ke lingkungan sendiri, nggak bisa dianggap biasa. Tangerang Selatan dan Jakarta beserta isinya sudah berbeda dibanding 5 tahun yang lalu. Tempat makan, ngopi, dan sebagainya tambah banyak. Yah, hidup kan memang perkara adaptasi. Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung. Terbiasa dengan suasana tanpa macet, apapun murah, dan mudah kemana saja seperti di Jember membuat gue agak sulit juga untuk terbiasa kembali dengan atmosfer disini. Mungkin akan lebih mudah bila punya pacar disini ya. EAAA.

Saat ini sedang kangen teman-teman. Sudah 10 hari lebih nih sepertinya nggak pergi keluar rumah untuk main. Habisnya, meskipun pengangguran nggak jelas gini, tetep jadi "pegawai" dirumah sendiri, hehe. Eh, sekarang sudah mendekati weekend. Semoga saja bisa atur schedule. Let's go!

Kamis, 01 Januari 2015

8 Hal Berkesan Yang Terjadi Tahun Kemarin

2014 jadi tahun yang penuh kejutan buat saya. Saya nggak nyangka akhirnya nyampe di posisi dimana masa depan benar-benar jelas di depan mata, di hadapan saya. Banyak hal yang terjadi di tahun 2014. Well, saya mau berbagi delapan diantaranya. 

1. Masuk semester tua
Saat ini saya masuk dalam semester yang mana mahasiswanya dikembalikan lagi untuk memikirkan dirinya sendiri. Memikirkan bagaimana caranya keluar dari kampus. Bukan lagi semester-semester yang mengatas namakan kepentingan orang banyak agar bisa mendapat uang dari kampus untuk pergi ke acara-acara diluar kota. Di tahun ini saya memulai skripsi saya dan Alhamdulillah seminar proposal sudah saya laksanakan. Doakan di awal tahun 2015 ini saya bisa sidang yah.

2. Target lulus kuliah meleset.
Kejadian ini adalah big bad surprise buat saya. Target lulus saya meleset karena kampus membuat beberapa kebijakan baru yang intinya tidak bisa membuat saya lulus tepat waktu. Sehingga saya perlu menambah satu semester lagi untuk mengatasi hal tersebut. Sedih, jelas. Saya mengecewakan diri saya sendiri dan kedua orangtua saya. Tapi bersyukur sekali punya orangtua yang tidak terlalu keras menyuruh saya untuk lulus tepat waktu. Tapi saat ini sih dikerasin, hihi. 

3. Jadi bagian salah satu event besar di Jember
Event besar tersebut adalah Jember Hijab Festival 2014, event perdana yang diselenggarakan oleh sudutkota.net. Untuk lebih jauh mengenai keterlibatan saya disana, silahkan baca post blog saya yang ini ya.

4. Perdana traveling ke alam
Hehe, jadi di tahun ini akhirnya saya berminat untuk pergi jalan-jalan ke alam. Langsung dua destinasi yang saya kunjungi yaitu Kawah Ijen dan Taman Nasional Baluran. Saya pergi kesana bersama tiga orang teman saya. Untuk lebih lanjut tentang cerita saya disana bisa baca ini dan ini.

5. Up and Down Perasaan
Sempat merasakan galau yang cukup hebat di tahun ini. Biasalah, melihat teman-teman yang memajang foto wisudanya bersama pasangannya bikin mahasiswi tingkat akhir yang masih jomblo seperti saya ini agak ketar-ketir alias ngiri. Dari punya mantan yang masih baik sampai sekarang sampai yang terakhir kenal dengan "Babi", semuanya terjadi tahun kemarin. Yah, semoga di tahun 2015 status berubah ya #eh

6. Kenal orang-orang baru
Tahun 2014 kemarin saya banyak ketemu orang-orang baru. Semua sih bermula saat KKN (Kuliah Kerja Nyata) di awal tahun lalu berlanjut dari teman ke teman. Saya menyesal kenapa dulu jadi anak kuper dan baru kenal lebih banyak orang disini saat saya sudah mau lulus. Kasihan ya gue.

7. Malam tahun baru terakhir di Jember
Semalam adalah new year's eve terakhir saya di Jember karena tahun ini saya akan kembali ke Jakarta. Bersyukurnya adalah saya menghabiskan malam tadi bersama teman-teman kampus saya disini. Tawa, canda, dan tentunya gosip tak lepas dari perbincangan kami semalam. Matur nuwun yo, rek!

8. Back to blog
Menyenangkan akhirnya bisa lebih sering nulis di blog lagi setelah sekian lama. Paling nggak dua hobi saya, nonton dan nulis bisa tersalurkan disini, hehe.


Itulah delapan hal berkesan yang terjadi tahun kemarin. Saya sedang memikirkan ada hal penting apa lagi agar genap menjadi sepuluh. Tapi kata orang, hal-hal pertama yang terlintas di kepala adalah hal-hal yang paling melekat diingatan karena biasanya sih berkesan.

Saya yakin tahun 2015 nggak sempurna tapi saya juga yakin tahun 2015 akan menyenangkan. Saya berharap semoga lebih banyak hal baik yang terjadi tahun ini dibanding hal buruk, saya menjadi pribadi yang nggak capek untuk perbaiki diri terus, dan berharap kebahagiaan selalu mengikuti. Amiin. 

HAPPY NEW YEAR ALL!

OOTD terakhir tahun 2014 (31 Desember)

Selasa, 14 Oktober 2014

Mata Ganti Mata

"Kalau mata ganti mata, seluruh dunia bakal buta"

Kalimat tersebut keluar ditengah-tengah gue dan beberapa teman gue sedang mendengarkan teman kami menceritakan kisahnya berpacaran. Dimana teman kami yang bernama (panggil saja) Anggrek, beranggapan bahwa senggol harus dibalas senggol, cubit harus dibalas cubit, dan sakit hati harus dibalas sakit hati. Kemudian, keluarlah kata mutiara diatas dari Lia, salah satu temen gue yang duduk bersebrangan.

Saat gue tanya pada Anggrek kenapa dia ngelakuin hal itu, dia menjawab dengan penuh yakin. Dia melakukan itu supaya pacarnya tahu dia bisa melakukan hal yang sama. Semacam pembuktian lah. Selain itu agar pacarnya tahu bagaimana rasanya diperlakukan tidak baik supaya nantinya pacarnya tidak lagi melakukan hal yang sama.

Lalu gue bertanya, bagaimana kalau pacarnya menjadi suaminya lalu membalas semua sikap tak baik Anggrek yang pernah dilakukan padanya. Kata Anggrek dia tidak takut. Temen gue Anggrek ini memang keras kalau soal begini. Cuma gue tetap menghargai pendapatnya karena diantara kami yang berkumpul saat itu sudah menasehati bahwa yang Ia lakukan tidak baik. Namun tetap saja Anggrek bersikukuh. Well, kewajiban kami sebagai teman menurut gue sudah ditunaikan jadi sekarang kembali ke Anggrek sebagai pelakunya yang memutuskan.

Gue tidak membenarkan apa yang dilakukan Anggrek karena gue sendiri masih berpendapat kalau sakit tak perlu dibalas sakit. Sakit harusnya diobati. Karena kalau semuanya dibalas sakit, lalu siapa penyembuhnya. Salah satu dari dua orang bermasalah perlu jadi penyembuh dan bersikap lebih dewasa. Nggak perlu mikir kalimat barusan sok suci karena kita semua sama tahu kalau kita pernah jadi orang yang sakit, bukan penyembuh diantara dua orang tersebut.
Namun yang Anggrek lakukan gue anggap itu manusiawi. Sifat reflek manusia kan emang begitu. Coba ada nyamuk yang terbang disekitar kuping lalu menempel di pipi, apa yang kita lakukan? Gue yakin bakal diceplas nyamuknya. Itu bentuk reflek sekaligus defense kita. Bentuk pertahanan diri. Ada yang ganggu, ya pasti kita akan berusaha menghilangkan biangnya. Nah, kasus Anggrek juga begitu. Ia disakiti dan sebagai bentuk defense-nya, Ia balas dengan hal yang sama.

Yah.. mungkin bagi sebagian orang, buta akan terasa adil dan bukan musibah bila semua orang di dunia juga buta. Setuju?

Minggu, 21 September 2014

#kembalikanbukudiary

Hashtag ini gue buat kurang lebih dua jam yang lalu di akun Twitter dan Facebook gue. Baru saja. Hashtag ini berangkat dari perbincangan cantik di malam minggu tadi (cantik karena cewek semua yang kumpul) dan status salah seorang teman di instant messenger yang berbunyi kurang lebih begini "Sayang ane gak ngepet. Jadi ketinggalan gosip". Pasti sudah tahulah ya arah pembicaraannya kemana. 

Sudah beberapa tahun terakhir ini semenjak munculnya media sosial Friendster, yang namanya update status telah menjadi hal yang wajib dilakukan. Apalagi saat jamannya Facebook dan Twitter muncul, kewajiban alias kebiasaan ini semakin menjadi. Isi statusnya juga semakin beragam. Sudah tidak lagi tentang aktivitas ataupun isi pikiran tapi juga isi hati mulai diutarakan lewat sana. Isi hati, iya isi hati.

Akibat kebiasaan kita sebagai pengguna media sosial memanfaatkan update status untuk mencurahkan isi hati, timbullah kebiasaan baru yang namanya stalking. Stalking yang artinya menguntit menjadi salah satu cara sebagian orang untuk mencari tahu tentang seseorang lewat media sosial. Stalking ini dilakukan siapa saja. Biasa dilakukan oleh pacar yang ingin tahu isi pikiran dan perasaan pasangannya yang mungkin tidak ia ketahui, dilakukan oleh musuh yang ingin tahu lebih tentang rivalnya, sampai orangtua modern yang ingin tahu anaknya sedang ngapain aja.

Hal pribadi semakin menjadi konsumsi publik. Tidak ada lagi yang membatasi privasi. Path memiliki konsep eksklusif untuk melindungi keresahan kita akan privasi yang terganggu dan ingin diketahui orang, menjadi pilihan banyak orang untuk digunakan. Jadi jangan heran kalau timeline Facebook dan Twitter kita mulai diisi update-linked dari Path. Tapi ternyata Path juga belum bisa menjadi alternatif tempat "curhat" yang aman untuk penggunanya.

Media sosial memang ditujukan untuk publikasi dan dibaca oleh khalayak umum, jadi mau tidak mau itu juga menjadi resikonya. Iya, resiko kita dikepo-in sama orang lain. Tapi kenapa masih diterusin yah? Menurut gue, hal ini dikarenakan timbulnya sifat narsisme yang semakin meningkat bersama dengan perkembangan media sosial yang meningkat juga. Eksistensi kita menjadi sangat penting. Tapi ini wajar. Maksudnya, ini sudah jadi salah satu hal sebab-akibat yang harus dilalui dan dialami oleh generasi kita sekarang. Jaman makin canggih, dan kita secara dipaksa atau terpaksa harus mau ikut serta. 

#kembalikanbukudiary menunjukkan keresahan gue akan banyaknya dampak negatif yang kita dapat kalau terlalu banyak menaruh hati dan perasaan di media sosial. Ada yang berantem, suudzon, sampai jadi anti sosial karena masalah status. Gue nggak munafik. Gue mengakui kalau gue juga suka curhat di media sosial. Tapi semenjak gue menyadari apa yang gue dapat dari tindakan gue yang terlalu pakai perasaan adalah negatif, saat ini gue sedang mengurangi. At least pakai bahasa yang lebih baik dan samar. Lebih mikir kalau mau nulis atau post sesuatu. Jangan bohong deh kalau terkadang kita berharap apa yang kita tulis di media sosial dibaca oleh seseorang atau siapapun itu alias menyindir atau kode. Karena gue pun merasakan itu kadang-kadang.

Sebenarnya sih nggak apa cuma kalau tujuannya ribut sama orang lain gue harap kalian mikir berkali-kali. Berantem yang disebabkan tulisan kita di media sosial itu sama sekali nggak enak. Lebih nggak enak daripada nantang langsung berhadap-hadapan. Begini, saat kita mikir berkali-kali apakah yang akan kita tulis benar-benar perlu dan harus masuk ke media sosial, sama saja kita sedang belajar untuk sedikit demi sedikit mengontrol emosi diri sendiri. Nggak percaya? Coba saja.

Sekali lagi ya, gue bukan orang suci. Gue juga pernah curhat sedih, kesel, dan sebagainya di media sosial. Tapi semakin kesini pastilah pikiran kita semakin terbuka dan berkembang. Cukup dikurangi saja dulu karena kita tidak bisa menolak kalau terkadang ada beberapa hal yang tidak bisa kita utarakan ke orang lain dan hanya media sosial atau media lain yang tak berindera yang bisa mendengarkan. I really know well how it feels like.

Hidup itu kan belajar, jadi mari sama-sama belajar. Belajarnya bisa dimulai dengan kembali menulis buku diary lagi. Buku hati yang hanya kita sendiri dan Tuhan yang tahu.

Rabu, 20 Agustus 2014

S1 7 tahun vs 5 tahun

Beberapa hari ini saat ngumpul sama teman-teman nggak sengaja obrolan nyasar ke soal isu pendidikan yang lagi heboh di Indonesia. Biasalah, ngumpul sama mahasiswa akhir dan mahasiswa tengah-tengah ada untungnya juga jadi nggak terlalu ketinggalan berita. Iya, isu pendidikan yang lagi bikin gusar saat ini adalah masa kuliah S1 dan S2 akan dimampatkan masing-masing menjadi 5 tahun dan 4 tahun.

Gue sempat bingung alasan apa yang ngebuat Dikti merubah hal ini. Gini, mahasiswa yang nggak bisa lulus (baru) ditahun ke 5 di drop out. Kemudian S2 jauh diperketat menjadi 4 tahun. Anggap sama lah S2 dengan S1. Kalau dipikir-pikir antara enak dan susah ya. 

Semalem gue baru cari-cari berita tentang ini. Benar apa nggak, gosip saja atau beneran. Ternyata sudah di ketok palu. Putusan ini dimasukkan ke dalam Permendikbud 49 Tahun 2014. Dari berita yang gue dapet sih belum tahu putusan ini kapan direalisasikna. Tahun ajaran baru sekarang sudah dimulai dibeberapa perguruan tinggi. Permendikbud ini bisa saja dimulai tahun ini atau menunggu tahun ajaran baru tahun depan.

Dari berita yang gue dapet, alasan dimampatkannya waktu kuliah S1 menjadi 5 tahun terkait dengan kurikulum. Salah satunya adalah beban SKS 8 semester nanti minimal 144 SKS. Kalau di kurikulum lama kampus gue yang baru ganti, 144 jelas lebih sedikit dari beban SKS kami yang sebelum diganti menjadi sekitaran 144 SKS adalah 150-an SKS. Jadi, idealnya sudah bukan 4 tahun lulus tapi 3,5 tahun lulus. Selain itu adalah membuka lebih banyak kesempatan masuknya mahasiswa baru, dan dampak yang diharapkan nanti mampu memotivasi mahasiswa agar lebih giat belajar dan menyegerakan menuntaskan kuliahnya, juga menghemat dana yang perlu dikeluarkan. This is what our parents want.

Buat mahasiswa kesehatan seperti gue, gue pribadi setuju mengenai pemotongan masa kuliah ini. Karena kuliah gue membutuhkan studi tambahan yaitu studi profesi apoteker selama 1 tahun, bila masa studi S1 dipersingkat maka apoteker-apoteker muda yang lulus dan siap kerja juga akan lebih banyak. Kedepannya jelas mempengaruhi perkembangan dunia farmasi dan kesehatan di Indonesia sedikit banyak. Tapi hal ini bisa jadi sebaliknya, lulusan sarjana menjadi lebih cepat bertambah dibanding sebelumnya yang kemungkinan bengkaknya jumlah pengangguran bisa terjadi. Masalah ini nih yang perlu diantisipasi sama pemerintah supaya kesiapan kerja lulusan sarjana ini bisa disalurkan dengan baik karena walaupun enterpreneurship sudah ditanamkan di bangku kuliah, tetap saja kecenderungan sarjana kita masih bekerja untuk orang lain.

Yah.. harapan semua orang pasti sama seperti gue, semoga putusan ini bisa berjalan dengan baik dan dampak positifnya lebih banyak dibanding dampak negatifnya.
Good Morning, everyone! Have a good wednesday!

Kamis, 14 Agustus 2014

Mahasiswa, Semester, dan Akhir

Bicara tentang tiga kata pada judul yang saling berkaitan diatas bagi saya adalah hal-hal yang paling saya kuasai saat ini. Saya seorang mahasiswa, saya sudah menempuh banyak semester, dan saya sedang di ujung akhir studi saya. Sudah cukup banyak hal yang saya lakukan selama empat tahun terakhir ini di kota perantauan saya. Dari hal yang membosankan sampai yang membuat ketagihan. Aktivitas yang rutin dan berat kadang membuat saya jenuh setengah mati. Harus ada sesuatu yang membuat saya tetap semangat menjalani perkuliahan (sekarang diganti menjadi penelitian). Ada dua hal versi saya untuk mengobati hal tersebut, olahraga dan main. Tapi yang menjadi kegemaran saya adalah main. Main sama teman-teman.

Bermain adalah kata lain saya untuk nongkrong. Saya tidak mau menyebut nongkrong karena terkesan maskulin, rokok, dan menghabiskan waktu sia-sia. Bermain juga suka disebut oleh teman-teman saya kongkow, nongki, dsb. Hobi bermain ini sudah saya jalani sejak masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Kami bersekian orang berkumpul, bercerita, bergosip, becanda, kenal dengan orang baru, dan satu hal yang paling menyenangkan adalah makan. Hobi ini masih berlanjut sampai sekarang saya sudah di kota yang berbeda. 

Kenapa sih suka banget nongkrong. Itu pertanyaan beberapa teman kepada saya. Saya suka main (alias nongkrong) karena saat percakapan diantara saya dengan teman-teman atau seseorang digabung dengan makan itulah esensi quality time. Kita bicara, mengutarakan pikiran dan perasaan satu sama lain, bertukar informasi dan kabar, ditambah makan makanan yang enak.. it's so fun for me.

Namun, di penghujung studi saya sekarang bermain menjadi sedikit berkurang kesenangannya. Sebab ada satu hal yang pasti ada disetiap percakapan dengan siapa dan dimana saja. Sebuah pertanyaan yang cenderung dihindari bagi mahasiswa tingkat akhir dan lebih sensitif dibanding pertanyaan klise soal cinta. Pertanyaan tersebut adalah :

Kapan lulus?

Terdengar akrab, bukan? Bukan soal cinta lagi yang mampu membuat mahasiswa tingkat akhir galau dan gelisah tidak karuan. Bukan soal cinta lagi yang mampu membuat mahasiswa tingkat akhir tetiba hemat dan menjadi orang paling pintar menyimpan uang. Tidak lagi dan tak akan sampai kita memegang ijazah kita sendiri. Jujur, pertanyaan tersebut lebih seram dibanding pertanyaan tentang IPK. 

Tentu, pertanyaan kapan lulus menjadi pertanyaan wajib yang harus disampaikan dan dijawab saat kita sedang berkumpul bersama teman-teman dan juga keluarga. Apalagi kalau teman-teman juga bernasib sama seperjuangan, pertanyaan bagaimana perkembangan penelitiannya juga menyertai. 

Apakah menyenangkan tetiba topik pembicaraan diantara kopi dan pancake kita berubah? Saya akan menjawab tergantung. Ini akan menyenangkan bagi mahasiswa yang tepat waktu. Sedangkan bagi mahasiswa yang terlambat dari teman-temannya akan menjadi teror yang menghantui. Lalu kita akan salah tingkah, garuk-garuk kepala, menyibak rambut, dan meminum kopi didepan kita untuk menjaga stabilitas emosi dan perasaan kita. Jawaban yang bisa kita berikan dan penuh alasan adalah,
"Iya nih nunggu dosen pembimbing belum dateng.."
"Iya nih nunggu data belum kekumpul.."
"Iya nih masih bingung judulnya mau apa.."
Atau yang seadanya akan menjawab, "Yaaa.. Secepetnyalah.."

Sebenarnya semua pertanyaan yang berkaitan dengan lulus kuliah tidak melulu dilatarbelakangi sindiran dan basa-basi tapi juga motivasi dari orang sekitar untuk kita segera menyelesaikan kuliah. Jangan cepat tersinggung dan dibawa santai saja. Lakukan yang ingin kita lakukan. Kita yang menjalaninya jadi tidak perlu khawatir dan risau dengan omongan orang lain yang mencibir.

Kelulusan bukan semata-semata menyelesaikan masa studi dan memenuhi syarat anak berbakti. Kelulusan merupakan kewajiban dan tanggungjawab kita sebagai mahasiswa sekaligus anak untuk membuktikan kepada orangtua dan tentu diri sendiri bahwa kita mampu mengabulkan harapan mereka dan lebih dari itu mengabulkan cita-cita kita sendiri. Ralat, mengabulkan satu dari sekian cita-cita kita sendiri. 

Terakhir, saya punya cerita. Kemarin saat saya pulang kampung, saya mendapat candaan baru bahwa disaat kami bermain dan berkumpul terdapat aturan, yaitu jangan membicarakan hal yang berbau SARA(K). SARA(K) adalah singkatan dari Suku, Agama, Ras, Antargolongan, dan Kuliah. Mungkin bagi yang terganggu dengan pertanyaan kapan lulus atau bagaimana kuliahnya ini bisa dicoba. Hehe.

Terasa ada yang kurang? Bisa ditambah kok jadi SARA(KS) yaitu Suku, Agama, Ras, Antargolongan, Kuliah, dan Status :P 




Kamis, 26 Juni 2014

Bungkus Rokok Baru

Kemarin lusa, Selasa tanggal 24 Juni 2014 sudah mulai aktif diberlakukan peringatan bergambar pada bungkus rokok. Buat orang-orang kesehatan dan aktivis anti tembakau atau rokok mungkin ini jadi angin segar karena akhirnya penerapan UU Pasal 61 PP nomer 109 tahun 2012 terlaksana juga. Bagi yang belum baca atau punya teks dari Peraturan Pemerintah tersebut, ini gue kasih linknya. PP nomor 109 tahun 2012. Kalau sudah dibuka, langsung scroll ke bawah ke pasal 61 dan scroll lagi keatas pasal 14, 15, 17, dan 18 karena pasal 61 mengacu ke empat pasal ini. Dicantumkan pada pasal tersebut bahwa produk tembakau wajib mencantumkan gambar dan tulisan peringatan kesehatan. Katanya sebesar 40% bagian dari bungkus rokok.

Kemarin gue bertemu Anwar, teman gue. Saat kami sedang mengobrol, dia mengeluarkan rokoknya. Karena penasaran gue tanya dia beli kapan rokok tersebut dan dia menjawab, "kemarin". Ternyata rokok-rokok dipasaran yang bungkusnya belum diperbaharui masih belum semua ditarik. Mungkin masih proses distribusi ya. Memang penasaran sama bungkus baru rokok yang katanya bergambar seram itu.

masih belum ada gambarnya nih

Pertanyaannya kenapa harus gambar? Apa nggak cukup hanya dengan tulisan yang diperbesar aja?
Jawabannya adalah tidak cukup. Coba kita lihat sendiri deh para perokok disekitar kita. Mau tulisan peringatannya dipasang di bagian depan atau belakang bungkus rokok kayaknya tetap nggak berpengaruh. Tulisan tersebut seakan dianggap sebagai pemberitahuan saja bukan peringatan. Para perokok butuh sesuatu yang lebih ampuh untuk menunjukkan bagaimana bahaya dari merokok bagi kesehatan bila terus dilakukan. Salah satu upayanya adalah dengan larangan bergambar ini.

Rendahnya kesadaran masyarakat akan kesehatan dirinya dan orang lain memang masih minim. Dari informasi yang gue baca grafik perokok tiap tahun semakin tinggi karena memang dari dulu sepertinya pemerintah terlihat lamban dan tidak serius dalam menangani dan menanggapi masalah ini. Kalau tidak salah, peraturan dilarangnya atau dibatasinya reklame rokok di jalan sudah berjalan ya. Namun sepertinya kurang memberi efek yang besar pada perokok. Tapi tidak hanya itu, para perokok pun juga kurang menyadari akan bahaya asap rokok yang mereka keluarkan bagi orang-orang disekelilingnya. 

Semoga dengan diberlakukannya larangan bergambar pada bungkus rokok ini mampu meningkatkan kesadaran akan kesehatan kita semua. Info lagi yang gue dapatkan dari teman bahwa larangan bergambar yang diterapkan di Amerika mampu menurunkan jumlah perokok sebanyak 25%. Berdoa saja itu bisa tercapai di negara kita.

Sebagai penutup obrolan gue dengan Anwar kemarin, gue bertanya apakah dia masih mau merokok dengan bungkus rokok yang ada larangan bergambarnya. Anwar menjawab, "Inshaa Allah masih, Ras". Hahaha.. baiklah, kita lihat saja nanti. 

Kamis, 12 Juni 2014

Jadi Si Positif

Nah, ini yang susah. Kalau jadi orang positif sesederhana minus dikali minus, mungkin nggak akan ada yang namanya neraka karena saat keburukan ditabrakan dengan keburukan akan selalu jadi kebaikan. Nggak sih menurut gue. Jadi si positif lebih rumit dan lebih susah daripada jadi si negatif. Nggak percaya? Cobain deh.

Topik ini sebenernya sudah cukup sering gue bahas di twitter (@plarasari), gue diskusikan dengan keluarga, dan teman-teman. Tapi saat ini sepertinya gue ingin lebih menggamblangkan pendapat gue bahwa penting seada-adanya buat kita jadi orang positif. Mari dimulai dengan pendapat gue tentang apa itu Si Positif.

Si Positif adalah seseorang yang didalam tindak tanduknya selalu menjungjung tinggi rasa optimis dan meminimalkan berprasangka dan berpikiran buruk tentang orang-orang disekitarnya.

Kalian yang selalu bilang diri kalian optimis, berpikiran terbuka, biasa bergaul dengan orang lain, belum tentu punya sifat si positif ini. Coba deh ngaca lagi, tarik lagi pikiran kalian ke belakang tentang apa yang sudah kalian lakukan. Benarkah sudah menjunjung tinggi rasa optimis dan meminimalkan prasangka buruk pada orang lain?

Pandangan gue tentang si positif ini berawal dari bincang-bincang antara gue dengan Papa tercinta. Ritual ngobrol di meja makan after dinner, diskusi di mobil saat perjalanan, atau di kamar gue setelah gue (dulu) ngerjain PR dan belajar sudah biasa di keluarga gue. Memang Papa adalah seorang yang begitu hangat dan penuh kasih sayang terhadap anak-anaknya. Jadi nggak ada tuh yang namanya kaku-kakuan, malu, dll ke Papa. Beliau demokrasi bangetlah (biasa.. dulunya GMNI --terus? hahaha).
Balik lagi ke bincang-bincang antara gue-Papa tentang si positif. Waktu itu kami berdua ngobrol ngalor ngidul dan apa saja. Gue lupa detailnya, cuma waktu itu akhirnya nyangkut ke bagaimana kita memperlakukan orang lain. Papa punya teori seperti ini:

Apapun yang orang lain lakukan pada kita sebenarnya adalah bentuk perspektif individu kita masing-masing untuk menanggapinya. Masalah akan ada bila kita menganggap itu masalah, begitu pula sebaliknya. Jadi, kalau kita menerima perlakuan buruk seseorang, adalah tergantung keputusan kita apakah yang mereka lakukan itu perlu diributkan atau tidak. Kalau keputusan kita alias perspektif kita positif, itu bukan masalah. Sebaliknya, kalau kita berpandangan itu negatif, berantemlah pasti.

Sudah jelaslah ya maksudnya gimana lewat tulisan diatas. Ringkasnya, kita sendiri yang memutuskan mau marah atau tenang. Teman-teman disekitar kalian mungkin akan bilang betapa bodohnya kalian tidak membalas perlakuan orang tersebut. Kalian tidak bodoh hanya karena memilih menjadi si positif. Kalian tidak apatis dan cuek dalam menanggapi sesuatu. Kalian hanya punya perspektif yang berbeda dalam melihat suatu masalah. "Ah, biarin aja. Karma will take the rest" --as simple as that, guys. Anggap saja kalian yang salah tanpa harus memusingkan siapa yang perlu minta maaf. Menjadi orang baik itu mudah tapi kuncinya cuma satu, punya si positif ini.

Oh iya, soal optimis yang gue singgung di awal. Jangan bilang lo orang yang optimis kalau lo belum pernah dan berani bertindak besar, berpikir besar, saat yang lo punya hanya keterbatasan. Gue pernah menghadapi orang yang pikirannya keras sekali untuk berani ambil resiko dan bertindak besar. Padahal dia cukuplah pengalamannya dalam mengerjakan proyek. Gue yakin dia nggak secetek itu untuk jadi pesimis. Tapi ternyata dia begitu. Penyebabnya cuma satu, dia lebih memilih menjadi si negatif yang melihat dari perspektif yang salah, at least yang berbeda dari gue. Hehe.
Dia sih bilangnya waktu itu, dia bukannya pesimis tapi realistis. Gue sih kurang bisa menerima karena gue punya pendapat yang berbeda. Menurut gue, realistis adalah menerima dan sadar dengan yang dipunya dan dihadapi depan mata. Beda dengan pesimis. Pesimis menurut gue adalah prasangka negatif kita terhadap apa yang dipunya dan dihadapi depan mata. Kenapa harus pesimis kalau realita yang kita punya bisa didorong sampai maksimal? Kalau kita mau, kita bisa punya realita terbatas tapi maju. Kenapa nggak?

Gue sih bukan pengen ngajarin. Gue cuma pengen berbagi ke kalian pelajaran yang telah gue dapat dan sampai saat ini masih gue pelajari. Susah emang tapi kita harus punya reminder di diri kita masing-masing. Nggak bisa harus diingatkan terus menerus. Nih ya, nggak ada orang yang suci, nggak ada orang yang benar-benar baik. Gue pun begitu. Didalam diri kita sendiri kita juga tahu kalau ada sisi malaikat dan setan. Hanya saja, kembali ke diri kita masing-masing, mana yang mau ditonjolkan dan dieksplorasi lagi. Mau si positif atau si negatif.


Selasa, 22 Mei 2012

ISMAFARSI : lalu, manfaatnya apa?

pernah nggak temen-temen sekalian ditanya oleh orang sekitar apa sebenernya ismafarsi? apa gunanya kita masuk ismafarsi? saya yakin pasti teman-teman pernah ditanya akan hal ini dan mungkin pernah mempertanyakan hal ini ke orang lain.
saya dulu juga bertanya-tanya seperti itu. apa sih gunanya aku masuk ismafarsi? apa yang ismafarsi bisa berikan kepada kader/anggotanya setelah masuk ismafarsi? berangkat dari semua pertanyaan itu, saya coba menjawab menurut pandangan saya.

filososfi yang bisa saya berikan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan klasik itu sangat sederhana, "You will never know if you never try". nggak ngerti bahasa inggris? oke saya translate ke bahasa indonesia yaitu "Kamu tidak akan pernah tau jika tidak pernah mencoba". kita nggak akan pernah tau rasanya pedas sebelum kita makan sambel. kita nggak akan tau rasanya manis sampai kita makan gula.

ismafarsi. sebuah organisasi mahasiswa kesehatan tertua di indonesia yang berdiri sejak tahun 50-an terkadang sulit diambil manfaatnya karena tertutupi oleh keeksklusifan yang menyelimuti organisasi ini. keeksklusifan disini adalah sebuah citra yang sudah terbentuk bahwa ismafarsi sangatlah butuh dana besar, sangat butuh dengan orang-orang yang mampu mengeluarkan uang banyak untuk even-evennya yang berskala nasional dan internasional. lalu kemana perginya yang tak berduit?

mereka tidak pergi kemana-mana. mereka mendekam saja didalam kampus tanpa tau dunia luar atau perkancahan ismafarsi secara lebih global di mata nasional dan internasional serta informasi dan ilmunya. mereka tidak merasakan dampaknya secara menyeluruh dari teman-temannya yang telah melalui itu. intinya mereka tidak mendapat ombak dari gelombang lautan yang pasang dari samudera.
pertanyaan selanjutnya mengapa hal ini terjadi? bisa saya jawab karena teman-teman yang tidak pergi kemana-mana itu masih menunggu apa dampak ismafarsi yang bisa didapat olehnya.

menunggu? hal yang paling tidak disukai oleh siapapun. malah kalau kita menunggu seseorang sampai beberapa jam, kita kesal dan pergi meninggalkannya. hal yang sama terjadi disini yaitu bila kita menunggu terus tanpa beraksi apapun, lama kelamaan ismafarsi pun akan meninggalkan kita dalam artian tidak akan ada kemajuan, ilmu, manfaat, dan informasi yang kita dapat. lalu kalau begitu apa gunanya ismafarsi? pertanyaan itu muncul lagi.

lalu kamu tidak ingin menunggu? aktif hubungin orang yang ditunggu. kalau perlu jemput saja biar tidak memakan waktu lama. toh kalau tepat waktu apa yang kita tuju akan cepat terlaksana. hal ini juga sama persis dengan masalah ini. bila tidak ingin ketinggalan informasi dan ilmu, proaktif lah. jemput bola. jangan mau disuap terus kalau kita bisa makan sendiri.

intinya adalah, jatuhkan diri kita ke dalam sesuatu agar nanti bisa kita rasakan ilmunya. kita tidak akan pernah tau apa yang kita akan dapat bila kita tidak mencoba untuk berkontribusi aktif mencapai apa yang nanti kita akan dapat. bila itu tidak kita lakukan, sama halnya dengan berpangku tangan dan tidak mau berusaha.
memang, pengorbanan yang kita keluarkan tidak lah sedikit tapi sebenarnya saat kita nanti benar-benar mempergunakan waktu/kegiatan yang ada pasti dengan pengorbanan yang dilakukan akan terasa berharga dan setimpal dengan pengalaman dan ilmu yang telah didapat.

so, START TO MAKE A MOVE!!!!

untuk mewujudkan hal ini sangatlah sulit memang. tapi tidak ada yang sulit bila kita punya niat dan tekad baik dan kuat. saya menulis ini bukan meng-claim diri saya benar dan tau semuanya tapi lebih sebagai kewajiban saya untuk melakukan hal sebaik mungkin untuk ismafarsi yang nantinya berdampak mengharumkan nama almamater
sebentar lagi mahasiswa baru akan datang dan regenerasi akan berlanjut. mari perbaiki dari kita masing-masing agar nantinya bisa kita tularkan dan bisa memberi suatu perubahan kearah pencerahan yang lebih baik.
ISMAFARSI MAJU, FARMASI UJ GO!

Kamis, 12 April 2012

CALON KOORDINATOR WILAYAH

Berat
Beban
Keren

tiga kata diatas yang bisa mewakili perasaan gue saat membaca title post gue ini, CALON KOORDINATOR WILAYAH.

ehem! alhamdulillah akhirnya nyali dan brani gue mendorong diri gue sendiri buat mendaftar jadi calon koordinator wilayah (korwil)  ISMAFARSI Jatim-Bali periode 2012-2014. begitu sulitnya gue mengumpulkan keberanian dan tekat dalam diri buat mencalonkan diri gue sendiri dengan sadar tanpa dorongan dari siapapun, tapi toh begitu akhirnya bisa :D

sebenernya mendaftarnya nggak takut sama-sekali, tapi pasca mendaftar dan menuju pemilihan itu yang membuat gue perlu berpikir berkali-kali apakah mental gue cukup kuat dihantam berbagai masalah yang pastinya berat karena nantinya bila terpilih, gue akan membawahi seluruh fakultas farmasi di 8 institusi se-jatim bali. man, thats totally not easy!

selain gue bakal dihantam mentalnya saat pemilihan nanti, gue juga menjadi ketua pelaksana acara pemilihan tersebut yaitu Musyawarah Wilayah atau biasa disingkat Muswil. kebetulan Jember jadi tuan rumah muswil kali ini jadi.. pastinya bila terpilih nanti (amiiiin) suatu kebanggaan sendiri bisa menjadi koordinator wilayah yang terpilih di kota sendiri.

calon korwil terbagi jadi 2 tipe yaitu representatif dan independent. banyak persyaratan yang perlu gue penuhin karena gue dijadikan calon representatif komisariat gue untuk jadi koordinator wilayah dan persyaratannya lebih ruwet dari yang independent yaitu harus ngasih surat rekomendasi dari presbem/kahima kampus dan ngumpulin fotokopi KTM puluhan mahasiswa di kampus masing-masing. kalau independent nggak perlu itu semua hehe

setelah mendaftar dan di umumkan secara resmi siapa calon korwil untuk ismafarsi JB selanjutnya di group facebook JB, gue ngerasa santai dan masih biasa aja. tapi saat temen gue menyebarkan kabar ini melalui grup fb kampus yang isinya dosen, pegawai kampus, dan sluruh alumni dan mahasiswa aktif kampus gue, gue sadar bahwa gue telah mengambil sebuah langkah besar dan gue ini sedang benar-benar membawa nama Universitas Jember ke tingkat wilayah dan nasional. bayangin nggak gue, Laras, mewakili nama kampus di nasional dan wilayah? it is a BIG DEAL maaaan! ini beban yang berat!

tapi beban yang berat ini nggak lantas gue biarin menimbun diri gue sendiri tapi malah membuat gue untuk lebih percaya diri memperkenalkan dan mengangkat lebih tinggi nama baik almamater gue. hal ini gue lakukan nggak cuma buat kampus gue tapi buat diri gue sendiri untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih berkualitas. tapi (lagi) gue nggak over confidence kok. gue masih punya banyak kekurangan untuk menjadi pemimpin yang ideal. prinsip gue sih begini, pemimpin itu juga manusia bukan dewa jadi manusiawi sekali saat pemimpin melakukan kesalahan (:

saat ini gue sedang memantapkan konsep dan tujuan gue ke depan bila nanti terpilih menjadi koordinator wilayah karena lawan gue lumayan berat yaitu cowok, lebih pintar, dan lebih tenang daripada gue yang agak petakilan dan malu-malu (tanpa imbuhan -in ya :p)
doakan saja yang terbaik buat gue supaya gue bisa kuat menghadapi segala macam tantangan didepan dan menjadikan semuanya menjadi lebih baik dari hari ini. ini bukan jabatan main-main dan bukan organisasi main-main. gue pun mengajukan diri menjadi calon korwil juga nggak main-main. just wishing me luck all!

kata penutup,
Terkadang resiko berbanding lurus dengan tingkat keberhasilan. kita sukses dimana ada suatu resiko yang besar. itu semua tergantung bagaimana kita menempatkan diri dan bijaksana.
Ciao!

Minggu, 18 Maret 2012

Panggung Bernisan

gue mau menceritakan sebuah cerita lucu sekaligus mengenaskan. nggak cuma dua itu sih tapi miris, kasihan, dan malu. campur aduk lah semuanya.
hari jumat kemarin gue sedang di jalan pulang menuju rumah dari kampus. gue dengan tenangnya mengendarai Bouges, mobil gue dengan santai. gue menyusuri jalan rusak dan menyusuri tanjakan yang lumayan curam untuk sampai ke komplek rumah gue. bukan jalanannya yang akan gue bahas walaupun jalannya rusak parah tapi yang akan gue ceritakan disini adalah apa yang gue temui di jalan pulang.
yang gue temui di jalan adalah..... Panggung. iya panggung. tapi ini bukan sembarang panggung. karena panggungnya ini di dirikan di....... kuburan.

apa yang lo bakal pikirin seketika saat itu juga melihat ada panggung besar dan tinggi di kuburan? yang gue pikirin pertama kali adalah : Ini yakin mau ada panggung musik di kuburan?
iya, itu panggung musik, loh. bukan panggung nikahan yang ada tenda birunya. panggung itu cukup tinggi. mungkin tingginya 2 meter kurang lebih. disana tidak ada pembatas antara panggung dan kuburan. jadi bebas aja gitu masyarakat dan penonton sekitar menyaksikan acara musik disana.
gue melintas saja sambil masih melihat panggung tersebut didirikan dan dirapikan lewat kaca spion mobil sebelah kanan. 3 menit dari panggung/kuburan itu, sampailah gue sampai rumah.

sampai rumah gue langsung mempersiapkan diri gue untuk pergi kembali ke kampus untuk praktikum. tidak lupa gue meletakkan jas lab dibelakang kursi mobil. lanjut lagi, gue meluncur  keluar komplek menuju kampus. dan sekali lagi gue melihat panggung itu. kondisi disana lumayan ramai. masyarakat sekitar berkumpul disana sambil menyetel lagu dangdut dengan volume keras. dalam hati gue masih nggak nyangka, setega itu kah warga sana memperdengarkan lagu dangdut kepada mayat-mayat dibawah kuburan itu?

praktikum gue berjalan lancar. gue pulang pukul setengah lima sore. sebelum pulang gue mengantar temen gue, Bina ke kostnya (dia nebeng). kemudian gue menyetir Bouges dengan kecepatan sedang menuju rumah karena gue sudah lelah sekali dan penat. ingin cepat bertemu kasur.
kemudian, gue melewati lagi panggung itu mau tidak mau. setiap lewat sana, gue selalu amazed  dengan warga sana. mana tanda bahwa Jember kota santri? gue tidak melihat saat itu disana. sayang.

esok hari yaitu sabtu sekitar pukul 10 pagi gue bersiap-siap untuk pergi menuju Gedung Soetardjo untuk menghadiri acara wisuda pacar kakak gue dengan kakak gue pastinya. saat itu kakak gue yang menyetir menuju tempat wisuda. mau tidak mau lagi kami berdua harus melewati panggung kuburan itu. kemudian, kakak gue berkata, "gila ya nih orang-orang. panggung dangdut ditaro di kuburan. lo gak mau buat tulisan dek?". voila! gue juga memikirkan hal yang sama saat itu. "iya mbak emang pengen gue buat tulisan. nanti gue mau foto ya mbak". kemudian kami membicarakan sedikit tentang acara dangdut yang tak tahu adat itu.

"Sumpah ya tega banget tuh orang-orang. kok bisa-nisanya sih buat panggung disana. kayak nggak ada tempat lain aja" kata gue sambil menengok melihat panggung itu ke belakang.
"iya. nanti lo buat tulisan dek, judulnya kota santri tidak tahu adat" jawab kakak gue.
"hahaha iya mbak, bukan tidak tahu tapi lupa, mbak".

sampailah gue di Gedung Setardjo tempat mahasiswa se-Universitas Jember di wisuda untuk periode pertama di tahun ini. ramai sekali disana. gue juga bertemu beberapat teman yaitu kak nuran, mas alvin, dan mas dimas (selamat wisuda kakak nizam) hehehe. gue dan kakak gue berada disana kurang lebih 3 jam. kenapa lama karena peserta wisudawannya banyak untuk periode ini hehe.

sore harinya gue dan kakak gue pulang. dan kembali lagi, kami melihat panggung mus(r)ik itu sudah di tata dengan apik beserta alat musiknya yang lengkap diatas sana. sayang sekali, gue belum sempat mengambil fotonya saat itu karena kami berdua kelelahan dan ngantuk sekali akibat menunggu lama acara wisuda tadi.

nah, malam harinya gue menyempatkan diri mengambil foto panggung tersebut bersama kakak gue sebelum kami pergi menuju toko kain untuk membeli kado kakak kami yang akan menikah minggu depan. disana saat itu sudah ada penjual yang siap meramaikan acara itu. warga sekitar juga banyak yang sudah berdiri disekitar panggung untuk melihat aksi sang artis yang nantinya akan bernyanyi didepan mereka sekaligus didepan almarhum dan almarhumah. karena saat itu malam dan kuburannya tidak terlihat, tadi pagi kamu mengambil fotonya lagi tapi sayang panggungnya sudah di copot sehingga keadaan kembali seperti sedia kala yaitu hanya kuburan saja.



hemm... sedih? iya. kasihan? banget. apa dosa dari orang-orang di bawah nisan itu yang harus menanggung malu bahwa kuburannya telah dihina secara tidak langsung oleh musik dangdut? apa sih yang membuat orang-orang sana membuat pesta malam disamping makam umum? miris.
Jember, yang katanya kota terbina. terpampang jelas dimana-mana tulisan mengenai Terbina itu. terbina kan tanpa L, bukan?

sungguh gue masih penasaran. siapakah orang-orang tega itu. kemana perginya kemanusiaan dan akhlak mulia dari kota santri ini? hilang semenjak Roxy telah berdiri? hilang semenjak cafe bertebaran dimana-mana? sama sekali tidak ada sopan santun dan penghormatan bagi yang sudah tiada. banyak sepertinya tanda tanya yang gue tulis disini ya. tapi memang itu yang ada dipikiran dan hati ini. mempertanyakan sebesar-besarnya apa yang ada di benak mereka!

apa yah yang ada di benak keluarga sang tiada itu? apa mereka tersinggung atau malah senang bahwa keluarganya yang telah tiada di hibur oleh panggung sebesar itu? sayangnya gue nggak turun dari mobil dan menanyakan acara apa ini dan siapa penyelenggaranya jadi gue bisa tahu mana orang yang tidak memiliki rasa empati terhadap makam itu. hey, itu makan manusia bukan binatang!

gue berharap acara yang memalukan ini tidak ada lagi di Jember atau di belahan tanah di dunia manapun. Amin.

Kamis, 15 Maret 2012

Polemik BBM (Bahan Bakar Miskin)

Saat ini gue sedang nonton salah satu acara di channel berita berlogo warna merah membahas tentang BLT yang akan diselenggarakan lagi oleh pemerintah. Pengadaan BLT ini dipicu akibat kenaikan BBM per 1 april mendatang. Topic berita malam ini menjadi inspirasi saya untuk menulis
Jujur saja, gue prihatin sekali dengan keadaan ini. Keadaan bahwa BLT harus diadakan lagi untuk membantu kesulitan rakyat akibat efek naiknya harga BBM. Pemerintah sepertinya sudahkehilangan akal harus bagaimana mengatasi gejolak yang nantinya timbul dari naiknya harga BBM dilihat dari segi ekonomi dan social. Apakah ini efektif? Tidak, ini tidak efektif. Gue berani bicara begini karena memang tidak ada perubahan  yang berarti. Rakyat masih miskin. Seakan-akan pemerintah ‘memfasilitasi’ permasalahan social yang terus menerus berkelanjutan tanpa penyelesaian ini.
Menurut saya, BLT yang diterapkan di Indonesia kurang tepat tujuan dan guna. Rakyat di beri beras, di beri sembako tapi apa implementasinya untuk merubah keadaan mereka tidak ada. Rakyat miskin tetap miskin. Mereka hanya dibuat bahagia sesaat dengan diberikan kebutuhan sehari-hari secara Cuma-Cuma. Tapi tidak ada yang menjamin jangka panjang kesejahteraan mereka lebih baik atau tidak.
Kekurangan lain dari BLT yang telah berjalan adalah mekanisme pemberian BLT nya yang sekali lagi kurang efektif malah cenderung membahayakan rakyat. Tidak ada penertiban oleh pihak yang berwenang. Tujuan pemerintah itu mensejahterakan rakyat atau malah membunuh massal? Sungguh ironis saat melihat nenek dan kakek harus mengantri begitu panjang berdesakan. Apakah pemerintah tidak melihat wajah mereka yang sudah dipenuhi peluh dan kaki mereka yang melemas akibat terlalu lama berdiri? Hampir kehabisan oksigen?
Sekali lagi, pemerintah tidak memberi solusi. Bertriliun-triliun yang dihabiskan untuk mengadakan BLT ini tidak sebanding dengan kesedihan rakyat miskin merasakan hidupnya. Bayangkan, 150.000 per bulan? Apa itu bisa memenuhi kebutuhan mereka? Kurang, pak. Ini masih belum cukup.
Seharusnya yang dilakukan pemerintah adalah menyelamatkan hidup rakyat miskin dengan salah satunya membuka lapangan pekerjaan. Inilah titik puncak dan petunjuk yang jelas bila ingin mensejahterakan rakyat. Tapi pemerintah tidak sadar akan hal itu. Hal itu hanya dianggap angin lalu sepertinya. Dengan rakyat miskin yang memiliki pekerjaan, taraf hidup mereka akan meningkat dan tarif meningkatpun walaupun masih memberatkan tapi tidak seberat saat penghasilan mereka per hari hanya mencapai 10.000 rupiah.
Hal terpenting menurut saya yang harus dikembangkan dan harus segera dibenahi oleh pemerintah selain lapangan pekerjaan adalah pendidikan. Tingginya kualitas pendidikan kita jelas akan meningkatkan taraf hidup masyarakat. Untuk lapangan pekerjaan pun begitu. Sayangnya memang kesadaran mengenai pentingnya pendidikan di negara kita masih kurang merata.
Saya tidak akan menghujat pemerintah. Saya masih mengilhami prinsip dimana orang-orang yang menjadi pejabat adalah pilihan dari rakyat dan konsekuensi kita untuk menerima lebih kurangnya. Yang harus kita lakukan adalah membantu para wakil rakyat semaksimal mungkin untuk memperbaiki permasalahan yang ada.

Rabu, 07 Maret 2012

Jurnal Ilmiah Dijadikan Syarat Kelulusan. Yakin?

Saya yakin surat keputusan dari DIKTI diatas sudah tidak asing lagi bagi mahasiswa Indonesia. atau malah ada yang belum tahu mengenai SK ini? SK dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (DIKTI) berisi tentang publikasi karya ilmiah sebagai syarat kelulusan Perguruan Tinggi dengan nomor surat 152/E/T/2012 yang diedarkan pada tanggal 27 januari 2012 lalu. Surat ini adalah surat ‘cahaya’ bagi sebagian orang, sekaligus menjadi surat ‘kegelapan’ oleh sebagian orang lainnya. Mengapa?
Mari simak baik-baik isi dari surat tersebut? Sudah? Ya, publikasi karya ilmiah diharuskan untuk menghasilkan makalahnya dalam jurnal ilmiah lokal, nasional, maupun internasional. Itu berarti, ada syarat tambahan selain skripsi, thesis, dan disertasi. Berat? Jelas. Bagus? Thumbs up! Tapi Saya tergelitik dengan alasan mengapa Ditjen DIKTI secepat ini mengeluarkan surat keputusan tanpa sebelumnya melakukan survey.
Terlihat jelas di surat tersebut bahwa Malaysia adalah salah satu negara yang menjadi pertimbangan utama Ditjen DIKTI untuk menjadikan publikasi karya ilmiah sebagai syarat kelulusan. Memang, jurnal ilmiah satu universitas di Malaysia sama dengan seluruh jurnal yang dibuat oleh mahasiswa yang tersebar dari sabang sampai merauke. Kita kalah jauh dalam hal ini. Jurnal ilmiah kita hanya sepertujuh dari jurnal yang bisa dibuat oleh Malaysia. Negara tetangga yang lain seperti Singapura, Thailand, bahkan Pakistan bisa menghasilan lebih dari 5000 jurnal ilmiah. Bagaimana Indonesia?
Dari beberapa artikel yang saya baca, curahan hati para dosen, dan yang saya dapat dari beberapa senior di kampus, DIKTI gegabah mengambil keputusan tanpa sebelumnya melakukan evaluasi ke perguruan tinggi diseluruh Indonesia. Seakan-akan Ditjen DIKTI kebakaran jenggot mendengar bahwa jurnal ilmiah dari mahasiswa di seluruh daerah di Indonesia bisa dihasilkan oleh satu universitas saja disana.
Mari kita lihat sisi positifnya, mahasiswa Indonesia akan semakin berkualitas dan berpikir lebih ilmiah saat lulus, khususnya lulusan S1. Karena kelulusan tidak hanya selesai saat sidang skripsi tapi berlanjut dalam pempublikasian jurnal ilmiahnya. Mahasiswa akan semakin terampil dalam hal menulis dan melakukan penelitian yang jelas hal ini masih minim jumlahnya di Indonesia. Hal ini juga akan menghindarkan adanya plagitisme skripsi yang menjamur sekarang di berbagai universitas. Saya sangat mendukung bila niat mulia dari DIKTI ini bisa terwujud. Bangsa kita akan kaya jurnal imiah dan tentunya penelitiannya. Selain itu pempublikasian jurnal ilmiah di Indonesia akan semakin mudah.
Negatifnya adalah bila tidak adanya verifikasi dan syarat yang jelas dalam hal pempublikasian makalah, akan banyak jurnal-jurnal ilmiah yang tidak bonafit dan ‘sampah’ bertaburan. Mahasiswa akan membuat jurnal sebagai syarat kelulusan saja yang cenderung meremehkan isi jurnal ilmiahnya dan bisa saja DIKTI kewalahan dalam verifikasi sehingga apapun jurnal yang masuk akan langsung diterima. Kekhawatiran ini yang perlu diperhatikan
Menurut Saya, DIKTI haru menetukan dan memberikan syarat yang jelas bagaimana suatu jurnal ilmiah seperti apa saja yang harus tercantum di jurnal ilmiah, bisa diambil dari skripsi atau tidak, alur pempublikasian yang jelas, quota media pempublikasian, sampai benar-benar mempersiapkan setiap universitas di Indonesia mampu melakukan hal ini. Karena ujung dari terobosan ini adalah universitas.
Keputusan DIKTI ini perlu di evaluasi dan perlu di kawal oleh pihak universitas, pemerintah, dan tentunya seluruh mahasiswa. Diharapkan jurnal ilmiah yang sah untuk di publikasikan tidak hanya sebagai surat keputusan belaka yang tidak mengedepankan kualitas dari jurnal atau hanya dibuat sebagai syarat lulus semata. Ini adalah salah satu peluang untuk mewujudkan kualitas SDM di Indonesia semakin baik.

Rabu, 09 November 2011

obrolan sore di kantin kampus membuahkan obrolan berkualitas

sore ini jadi penunjuk kecil ke langkah yang besar. perbincangan hangat nan dingin (karena gue minum es milo) di kantin kampus sama salah satu temen hebat gue wimala menghasilkan pikiran-pikiran dan ide-ide positif untuk organisasi dan kegiatan yang sedang gue jalani. nggak ambil pikir panjang gue langsung berangkat ke warnet terdekat dan menceritakan hal ini ke kalian semua. walaupun ini nggak penting tapi paling nggak semua luapan di pikiran gue dan temen gue itu bisa gue ceritakan dan di baca banyak orang (kalau ada yang baca, gue gak peduli juga yang penting nulis hehe)

gue dan temen-temen gue yang tergabung dalam organisasi untuk mahasiswa farmasi seluruh indonesia bakal ngadain LKMMF I minggu depan tanggal 19 november 2011. LKMMF itu sebutan lain dari LK I yaitu Latihan Kepemimpinan. di acara ini adalah waktunya kita mengenalkan organisasi yang kita ikutin sekaligus menjaring kader-kader baru dari mahasiswa 2011. kita nggak asal-asalan ngebuat acara ini karena emang udah ada aturannya dan udah ada sillabusnya yang menunjukkan apa-apa aja yang harus disampaikan di LKMMF I ini. kita juga nggak asal-asalan nyari cara menarik maba (mahasiswa baru) supaya tertarik dengan organisasi ini. sekarang sudah masuk tahap publikasi dan pendaftaran. semoga apa yang gue dan temen-temen gue harapkan bisa terwujud yaitu : banyak peserta!!!!

sebenernya organisasi yang gue ikutin ini nggak perlu banyak publikasi karena emang udah organisasi besar yang mencakup nasional dan berperan juga dalam dunia internasional. berperan di nasionalnya juga nggak cuma "ngumpul" mahasiswa farmasi aja tapi juga ikut kerja sama sama pemerintah dalam Undang-Undang yang berkaitan dengan kesehatan dan kefarmasian. tapi sayangnya, di kampus gue itu organisasi ini kurang peminatnya. terlihat jelas dari senior-senior gue yang kurang banyak massanya. sampai saat gue dulu LKMMF I, terkesan gue dan temen-temen gue di "paksa" untuk ikut karena sampai waktu yang ditentukan pesertanya sangat minim. hal itu yang menjadi evaluasi utama gue dan temen-temen nyelenggarain LKMMF I tahun ini. kita nggak mau hal itu terjadi. kita mau mereka ikut karena mereka emang pengen ikut.

ada beberapa masalah yang gue dan wimala bicarakan hari ini soal organisasi di komisariat kita. dan setelah gue utarakan dan wimala utarakan masing-masing pikiran, voila! kita berdua punya pikiran yang sama! seakan-akan kita dalam satu kepala tapi berlainan tubuh. gue dan wimala punya visi yang sama soal masalah-masalah yang ada. nggak cuma visi tapi juga kita negbicarain caranya, yaitu misinya supaya visi-visi kita bisa terwujud. jujur, kita berdua prihatin dengan keadaan yang ada tapi dengan pemikiran yang udah kita omongin sama-sama kok kayaknya mudah ya buat di wujudin.

kita berdua bicarain banyak hal dan banyak terobosan. kita berdua saling tuker ceirta masing-masing. kita berdua saling ngeluh dengan keadaan yang ada di depan kita. kita berdua emang diam selama ini tapi setelah omongan-omongan kita dirangkai jadi satu aspirasi, kayaknya emang kita harus bergerak. kalau nggak ada yang mulai, yaudah kita aja yang mulai. sesuatu nggak akan berjalan kalau nggak ada yang mau mulai duluan. pasti ada pelopornya. dan itu nggak bisa gue atau cuma wima aja yang lakuin tapi kita berdua mau ngajak temen-temen gue semua buat ngelakuin hal ini bareng-bareng. KITA BUAT GEBRAKAN!
bayangin, organisasi kefarmasian nggak jadi organisasi unggulan di fakultas farmasinya sendiri. prihatin? ya! kami prihatin! itulah landasan gue dan wimala kenapa mau banget buat gebrakan. paling minim, di kampus kami sendiri.

gue dan wimala berpikiran untuk membicarakan hal ini ke temen-temen dan senior organisasi gue setelah acara LKMMF I selesai. sekalian evaluasi acara. ya semoga pikiran gue dan wimala ini nggak cuma obrolan sore di kantin kampus aja tapi bisa jadi satu langkah besar untuk memperbaiki organisasi yang gue junjung tinggi ini menjadi lebih baik di komisariat gue sendiri, karena di kampus lain kayaknya nggak begitu sejauh yang kami berdua lihat. gue cuma nggak mau, udah ikut organisasi hebat ini tapi nggak bisa ngelakuin hal-hal yang berguna dan ngedapetin ilmu secara maksimal.sayang kan? makanya, LETS MAKE SOME MOVES!

Jumat, 04 November 2011

New7Wonders atau New7Fictions?

Sebenarnya prihatin nonton tv, baca timeline dan berita-berita di media new online (berhubung males baca koran) mengenai kompetisi yang udah dari 4 tahun lalu diadakan tapi hip nya baru satu sampai dua bulan terakhir yaitu New 7 Wonders. Kenapa prihatin? karena di balik lebih tenarnya komodo dan itu bagus buat Indonesia, ada aja masalah yang menyangkutnya.

Seperti yang gue baca di salah satu artikel tvonenews.com dengan judul KBRI Swiss: New7Wonders Diragukan Kredibilitasnya . Udah jelas banget bahwa kompetisi ini 'kurang' jelas kenyataanya. Biar gue kasih tau sedikit soal isi artikel tersebut yaitu Pemerintahan Indonesia di Swiss sempat menyelidiki keberadaan dari yayasan New 7 Wonders ini atau biasa disingkat N7W. hasil yang mereka dapat malah 'agak aneh' menurut gue yaitu mereka (yayasan N7W) nggak punya kantor jadi cuma alamat email aja. Alamat yang mereka kasih ternyata bukan kantor tapi malah museum. Nggak cuma itu aja yang gue dapet tapi kabarnya UNESCO nggak mendukung kompetisi ini dari awal jadi kompetisi ini nggak berada di bawah naungan UNESCO.

Yang gue lebih heran lagi adalah saat Pemerintah Indonesia menolak jadi tuan rumah penobatan New 7 Wonders dikarenakan biayanya yang terlalu besar jadi Kementrian Pariwisata kita nggak sanggup, yayasan kompetisi tersebut mencoret pihak pemerintah kita dari komite pendukung resmi tapi Taman Nasional Komodo masih aja jadi finalis. Jadilah penyokong dari dalam negeri untuk kompetisi ini adalah dari pihak swasta. Gue nggak ngerti yang salah disini Pemerintahnya atau pihak swastanya yang nggak pake izin bla-bla-bla tapi mencanangkan menyadi supporter kompetisi ini.

Sebenernya pengen gue tulis semua kejanggalan-kejanggalan yang ada soal kompetisi ini dari yang sudah gue tulis diatas sampai dipertanyakannya biaya SMS yang dikirim oleh masyarakat kita dikemanakan tapi gue yakin sebagai penonton televisi, pembaca surat kabar, dan masyarakat yang aktif dunia maya dan dunia nyata udah mengerti banget dan tahu mengenai berita yang menurut gue patut disayangkan. karena kenapa saat nasionalisme kita 'diminta' oleh dunia untuk mendukung Taman Nasional Komodo jadi salah satu keajaiaban dunia malah ada pergunjingan kayak gini. Kesannya jadi semangat kita yang udah menggelora soal ini dijatuhin.

Kalaupun emang N7W itu sebuah yayasan fiktif kita nggak perlu sedih juga karena emang dari tahun 1991 (kalau nggak salah) Taman Nasional Komodo udah dinobatin secara resmi oleh UNESCO jadi salah satu situs warisan dunia. Yang kurang dari soal ini dan dari keseluruhan masalah ini menurut gue adalah kurangnya promosi secara lebih besar lagi tentang Taman Nasional Komodo di dalam maupun di luar negeri. Promosi disini maksud gue selain melancarkan promosi lewat iklan, reklame, dunia maya, dll tapi diimbangi juga dari sarananya yang harus diperbaiki. dari transportasi dan apapun yang diperlukan disana tanpa merusak habitat komodo yang pasti.

Polemik ini terus berlanjut temen-temen pembaca. Entah sampai tanggal 11 November 2011 nanti atau setelah itu. Selain gue, kalian semua harus ikut terus menyimak dan mengikuti berita mengenai soal ini. Soal ini nggak cuma issue doang tapi jadi salah satu indikator harga diri bangsa kita di mata semua masyarakat Indonesia dan dunia.

Minggu, 23 Oktober 2011

late post : INDONESIA ke-66

 Postingan basi sih, harusnya gue entri bulan agustus kemarin cuma karena ada beberapa masalah seperti laptop yang di service, pindahan rumah, dll jadi baru gue posting sekarang. toh membicarakan tentang bangsa nggak harus saat HUT aja kan? eh iya, post ini udah gue buat dari 23 agustus loh.

Banyak sekali yang ingin aku bahas dan bicarakan mengenai HUT Indonesia yang ke-66 tapi mungkin aku akan bicara beberapa hal saja yang menggelitik sejak pagi 16 agustus lalu mengenai negara ini. Khusus untuk post-ku ini aku akan berbicara menggunakan “aku” bukan “gue” supaya lebih nasionalis aja :p
Pertanyaan dan beberapa hal yang menggelitik pikiranku bermula saat kakak tertuaku menyinggung salah satu iklan di TV mengenai perayaan HUT RI. Dia berkomentar “gue pikir kita merdeka bukan karena perjuangan keras kita melawan tapi keberuntungan karena kita memproklamirkan kemerdekaan di celah Jepang lengah”. Lalu apa yang dibanggakan oleh kita kalau hanya sebatas itu kekuatan kita? Mulanya aku kurang setuju dan menepis kata kakakku tapi setelah kupikir sejenak, kok bener juga yah.
Coba kita bayangkan gimana kalau Jepang nggak dalam keadaan terjepit, nggak dalam keadaan mereka di bom sama sekutu. Mungkin kita masih jadi negara jajahannya dan angka 3,5 tahun yang tercetak disemua buku sejarah SD akan berubah lebih dari itu, nasib kita nggak akan seperti ini malah jadi lebih buruk. Atau sebaliknya seperti malaysia yang sampai sekarang masih jadi negara jajahan inggris negaranya terlihat lebih teratur, bersih, daan baik daripada negara kita. Atau malah semuanya akan lebih parah yaitu sampai sekarang kita masih di jajah.
Untungnya hal itu nggak terjadi. Seharusnya dan menurutku, kalau kita menanggapi omongan kakakku, kita harusnya berterimakasih kepada sekutu yang telah membom Jepang disaat mereka sedang menjajah bangsa kita. Selain berterimaksih sama para pemuda yang saat itu sangat pintar mengambil moment. Tapi bener juga, selagi ada kesempatan untuk menyerang secara diplomatis melalui proklamasi, kapan lagi bisa mengumumkan kalau kita merdeka dengan cara lebih mudah walaupun tidak ada yang mudah dalam kondisi itu.
Tapi semuanya aku serahkan pada kamu semua bagaimana menanggapi hal ini. Aku hanya sebagai penyulut pembicaraan dan pengangkat topik dengan sedikit berkomentar.
Aku tidak hanya membicarakan mengenai bagaimana kita mendapatkan kemerdekaan saja tapi aku juga mau bicara soal hal lain yang udah klise disampaikan banyak orang yaitu apa saja yang telah terjadi selama 66 tahun kita merdeka. Tapi aku akan melihat dari bidang yang aku geluti yaitu kesehatan.
Sebagai mahasiswa farmasi, aku akan menanggapi gimana dunia kesehatan berkembang di indonesia sesuai kacamataku (actually, aku bener-bener pake kacamata). Dari segi fasilitas jelas masih minim. Walaupun di kota-kota besar sudah mengalami kemajuan tapi ini tidak berlaku di kota-kota kecil yang jauh dari jangkauan Ibukota atau kota besar lainnya.dilihat dari segi pelayanan jelas juga belum merata. Aku nggak punya data yang jelas berapa banyak tenaga medis dan apoteker yang berkompeten di Indonesia secara persentase dan yang tersebar di kota-kota kecil,pedalaman,dan desa-desa seluruh Indonesia. Lalu mengenai pengetahuan tentang medikasi dan sosialisasi tentang kesehatan diri dan keluarga juga nggak merata, mungkin yang tersampaikan hanya di kota-kota besar dan sekitarnya. Tapi menurut survey yang telah aku lakukan kecil-kecilan kepada orang-orang disekitarku dan pengalamanku saat melaksanaan SD binaan ISMAFARSI dan Kampanye Informasi Obat yang aku selenggarakan, 70-80% masih belum paham dengan menjaga kesehatan diri dan keluarga juga pengetahuan mengenai medikasinya.
Sampai sekarang pertanyaan besar yang masih terus berputar didalam kepalaku dan masih aku keluhkan adalah kemana orang-orang yang berwenang dan bertanggung jawab atas peningkatan pelayanan dan perkembangan kesehatan  ini? Kemana Pak Presiden, Ibu Menteri, Kemenkes, Kepala RS, paramedis dan apoteker dalam menghadapai hal ini? Apa saja yang mereka kerjakan? Ini bukannya aku tujukan kepada seluruh jabatan yang aku sebut diatas tapi ketidak adilan dan pemerataan yang membuatku bingung kenapa bisa peningkatan kesehatan di Indonesia tidak bisa terjadi dengan baik ditengah teknologi yang makin modern dan banyaknya SDM yang seharusnya bisa diandalkan?
Menurut ku hal ini bisa terjadi karena beberapa faktor, yaitu:
-   Tingkat sosial mempengaruhi pelayanan. Aku bisa mengatakan hal ini karena kakakku yang menjadi Dokter Muda di salah satu RS milik pemerintah di kota tempatku kuliah pernah bercerita padaku bagaiaman ketidakpenyataraan pelayanan di RS terjadi antara si miskin dengan si kaya. Seakan-akan si miskin tak boleh sakit dan yang kaya saja yang boleh sakit. Tapi pemerintah sudah berusaha dengan mengadakan ASKES bagi warga yang tidak mampu tapi sepertinya agak merepotkan prosedurnya karena harus menyertakan pernyataan tidak mampu dari RT atau kecamatan setempat. Coba pikirkan orang-orang yang tinggal diperumahan kumuh pinggir kali, apa mereka mengetahui prosedur ini?
-   Mahasiswa lulusan fakultas kesehatan di seluruh universitas negeri ataupun swasta sangat banyak tapi mengapa tidak semuanya berkualitas? Untuk hal ini harusnya kita tanyakan kepada kemendiknas bagaimana kurikulum, metode kuliah yang telah diterapkan di seluruh universitas. Bila dari kampusnya tidak berkualitas, mau jadi apa SDM nya walaupun semuanya memang tergantung dari pribadi masing-masing tapi fasilitas dan tenaga pengajar seperti dosen sangat berpengaruh.
-   Pemerintah sudah menjalankan beberapa program dalam bidang kesehatan. Tapi sepertinya itu hanya program karena masih aja ada masyarakat yang bergizi buruk atau tidak diperhatikan. Jangan melihat di kota-kota besar atau pulau jawa, tapi lihat di pulau papua, sulawesi, kalimantan,NTB, dan NTT. Apakan program pemerintah tersebut telah nyata diterapkan oleh masyarakat? Apakah orang-orang yang berwenang mengurus hal ini di daerah-daerah tersebut melakukan pekerjaannya dengan baik?

Umurku masih 19 tahun, baru setahun mencicipi dunia perkuliahan, belum bekerja atau part-time dimanapun, punya hobby nonton film, nongkrong, dan update status di beberapa jejaring sosial. Tapi apakah hal ini yang membentengi kita supaya nggak kritis sama keadaan negeri sendiri? Banyak teman-temanku yang sulit diakaj diskusi soal ini tapi gak dikit juga yang seantusias aku malah jauh lebih pintar menanggapi hal-hal ini. Aku baru anak kemarin sore, tapi aku punya kewajiban sebagai mahasiswa calon penerus negara ini untuk mengak semua teman-teman dan kamu supaya lebih kritis dan memperhatikan permaslaahn nasional. Menurutku moment HUT RI ini aku jadikan waktu dimana aku bisa merenungkan apa saja yang perlu dibenahi di negara kita. Memang nggak bisa berlaku banyak tapi dengan merubah sedikit cara pandangku dan aku terapkan hal itu, indyaALlah membuat masa depan negara kita lebih baik dibanding sekarang. Seperti kata papaku “Generasimu nanti yang akan memimpin bangsa maka berusahalah memperbaiki negara kita . awali dari cara memandang negari dan tingkatkan nasionalisme”

HAPPY BDAY INDONESIA. GET WELL AND TRULY FREEDOM SOON!