Siapa Dia

Minggu, 23 Oktober 2011

late post : INDONESIA ke-66

 Postingan basi sih, harusnya gue entri bulan agustus kemarin cuma karena ada beberapa masalah seperti laptop yang di service, pindahan rumah, dll jadi baru gue posting sekarang. toh membicarakan tentang bangsa nggak harus saat HUT aja kan? eh iya, post ini udah gue buat dari 23 agustus loh.

Banyak sekali yang ingin aku bahas dan bicarakan mengenai HUT Indonesia yang ke-66 tapi mungkin aku akan bicara beberapa hal saja yang menggelitik sejak pagi 16 agustus lalu mengenai negara ini. Khusus untuk post-ku ini aku akan berbicara menggunakan “aku” bukan “gue” supaya lebih nasionalis aja :p
Pertanyaan dan beberapa hal yang menggelitik pikiranku bermula saat kakak tertuaku menyinggung salah satu iklan di TV mengenai perayaan HUT RI. Dia berkomentar “gue pikir kita merdeka bukan karena perjuangan keras kita melawan tapi keberuntungan karena kita memproklamirkan kemerdekaan di celah Jepang lengah”. Lalu apa yang dibanggakan oleh kita kalau hanya sebatas itu kekuatan kita? Mulanya aku kurang setuju dan menepis kata kakakku tapi setelah kupikir sejenak, kok bener juga yah.
Coba kita bayangkan gimana kalau Jepang nggak dalam keadaan terjepit, nggak dalam keadaan mereka di bom sama sekutu. Mungkin kita masih jadi negara jajahannya dan angka 3,5 tahun yang tercetak disemua buku sejarah SD akan berubah lebih dari itu, nasib kita nggak akan seperti ini malah jadi lebih buruk. Atau sebaliknya seperti malaysia yang sampai sekarang masih jadi negara jajahan inggris negaranya terlihat lebih teratur, bersih, daan baik daripada negara kita. Atau malah semuanya akan lebih parah yaitu sampai sekarang kita masih di jajah.
Untungnya hal itu nggak terjadi. Seharusnya dan menurutku, kalau kita menanggapi omongan kakakku, kita harusnya berterimakasih kepada sekutu yang telah membom Jepang disaat mereka sedang menjajah bangsa kita. Selain berterimaksih sama para pemuda yang saat itu sangat pintar mengambil moment. Tapi bener juga, selagi ada kesempatan untuk menyerang secara diplomatis melalui proklamasi, kapan lagi bisa mengumumkan kalau kita merdeka dengan cara lebih mudah walaupun tidak ada yang mudah dalam kondisi itu.
Tapi semuanya aku serahkan pada kamu semua bagaimana menanggapi hal ini. Aku hanya sebagai penyulut pembicaraan dan pengangkat topik dengan sedikit berkomentar.
Aku tidak hanya membicarakan mengenai bagaimana kita mendapatkan kemerdekaan saja tapi aku juga mau bicara soal hal lain yang udah klise disampaikan banyak orang yaitu apa saja yang telah terjadi selama 66 tahun kita merdeka. Tapi aku akan melihat dari bidang yang aku geluti yaitu kesehatan.
Sebagai mahasiswa farmasi, aku akan menanggapi gimana dunia kesehatan berkembang di indonesia sesuai kacamataku (actually, aku bener-bener pake kacamata). Dari segi fasilitas jelas masih minim. Walaupun di kota-kota besar sudah mengalami kemajuan tapi ini tidak berlaku di kota-kota kecil yang jauh dari jangkauan Ibukota atau kota besar lainnya.dilihat dari segi pelayanan jelas juga belum merata. Aku nggak punya data yang jelas berapa banyak tenaga medis dan apoteker yang berkompeten di Indonesia secara persentase dan yang tersebar di kota-kota kecil,pedalaman,dan desa-desa seluruh Indonesia. Lalu mengenai pengetahuan tentang medikasi dan sosialisasi tentang kesehatan diri dan keluarga juga nggak merata, mungkin yang tersampaikan hanya di kota-kota besar dan sekitarnya. Tapi menurut survey yang telah aku lakukan kecil-kecilan kepada orang-orang disekitarku dan pengalamanku saat melaksanaan SD binaan ISMAFARSI dan Kampanye Informasi Obat yang aku selenggarakan, 70-80% masih belum paham dengan menjaga kesehatan diri dan keluarga juga pengetahuan mengenai medikasinya.
Sampai sekarang pertanyaan besar yang masih terus berputar didalam kepalaku dan masih aku keluhkan adalah kemana orang-orang yang berwenang dan bertanggung jawab atas peningkatan pelayanan dan perkembangan kesehatan  ini? Kemana Pak Presiden, Ibu Menteri, Kemenkes, Kepala RS, paramedis dan apoteker dalam menghadapai hal ini? Apa saja yang mereka kerjakan? Ini bukannya aku tujukan kepada seluruh jabatan yang aku sebut diatas tapi ketidak adilan dan pemerataan yang membuatku bingung kenapa bisa peningkatan kesehatan di Indonesia tidak bisa terjadi dengan baik ditengah teknologi yang makin modern dan banyaknya SDM yang seharusnya bisa diandalkan?
Menurut ku hal ini bisa terjadi karena beberapa faktor, yaitu:
-   Tingkat sosial mempengaruhi pelayanan. Aku bisa mengatakan hal ini karena kakakku yang menjadi Dokter Muda di salah satu RS milik pemerintah di kota tempatku kuliah pernah bercerita padaku bagaiaman ketidakpenyataraan pelayanan di RS terjadi antara si miskin dengan si kaya. Seakan-akan si miskin tak boleh sakit dan yang kaya saja yang boleh sakit. Tapi pemerintah sudah berusaha dengan mengadakan ASKES bagi warga yang tidak mampu tapi sepertinya agak merepotkan prosedurnya karena harus menyertakan pernyataan tidak mampu dari RT atau kecamatan setempat. Coba pikirkan orang-orang yang tinggal diperumahan kumuh pinggir kali, apa mereka mengetahui prosedur ini?
-   Mahasiswa lulusan fakultas kesehatan di seluruh universitas negeri ataupun swasta sangat banyak tapi mengapa tidak semuanya berkualitas? Untuk hal ini harusnya kita tanyakan kepada kemendiknas bagaimana kurikulum, metode kuliah yang telah diterapkan di seluruh universitas. Bila dari kampusnya tidak berkualitas, mau jadi apa SDM nya walaupun semuanya memang tergantung dari pribadi masing-masing tapi fasilitas dan tenaga pengajar seperti dosen sangat berpengaruh.
-   Pemerintah sudah menjalankan beberapa program dalam bidang kesehatan. Tapi sepertinya itu hanya program karena masih aja ada masyarakat yang bergizi buruk atau tidak diperhatikan. Jangan melihat di kota-kota besar atau pulau jawa, tapi lihat di pulau papua, sulawesi, kalimantan,NTB, dan NTT. Apakan program pemerintah tersebut telah nyata diterapkan oleh masyarakat? Apakah orang-orang yang berwenang mengurus hal ini di daerah-daerah tersebut melakukan pekerjaannya dengan baik?

Umurku masih 19 tahun, baru setahun mencicipi dunia perkuliahan, belum bekerja atau part-time dimanapun, punya hobby nonton film, nongkrong, dan update status di beberapa jejaring sosial. Tapi apakah hal ini yang membentengi kita supaya nggak kritis sama keadaan negeri sendiri? Banyak teman-temanku yang sulit diakaj diskusi soal ini tapi gak dikit juga yang seantusias aku malah jauh lebih pintar menanggapi hal-hal ini. Aku baru anak kemarin sore, tapi aku punya kewajiban sebagai mahasiswa calon penerus negara ini untuk mengak semua teman-teman dan kamu supaya lebih kritis dan memperhatikan permaslaahn nasional. Menurutku moment HUT RI ini aku jadikan waktu dimana aku bisa merenungkan apa saja yang perlu dibenahi di negara kita. Memang nggak bisa berlaku banyak tapi dengan merubah sedikit cara pandangku dan aku terapkan hal itu, indyaALlah membuat masa depan negara kita lebih baik dibanding sekarang. Seperti kata papaku “Generasimu nanti yang akan memimpin bangsa maka berusahalah memperbaiki negara kita . awali dari cara memandang negari dan tingkatkan nasionalisme”

HAPPY BDAY INDONESIA. GET WELL AND TRULY FREEDOM SOON!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar