Hidup bukan papan, hidup bukan nampan
Tapi yang kurasa aku seperti kapur, berjalan saja lurus diatas papan tulis kotor. Tak ada gejolak.
Hidup itu bukan judi, hidup itu bukan lari.
Kau sudah memiliki segalanya, tak cukup kah itu semua?
Hidup memang smentara, tapi tak sayangkah kau habiskan untuk berlari?
Kutatap kelambu dikamarku dengan wajah idiot
Aksen bunga mataharinya seakan melotot.
Hey, aku hanya melihat. Bukan mau adu otot.
Hidup itu jalan, hidup itu rintangan.
Persimpangan selalu menghadang. Terkadang macet pun tak bisa dihindarkan.
Tapi kita harus siap melawan.
Puisiku bukan puisi cinta. Karena semua masih meraba-raba. Tapi sedang kutunggu sang pembawa surat penjelas itu disini. Di beranda dengan susu coklat hangat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar